Jakarta – Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) berupaya meningkatkan kurikulum pelajarannya menjadi kurikulum berlevel dunia dengan mengembangkan jejaring dengan berbagai universtas di tingkat internasional.

Wakil Dekan Fakultas Peternakan UGM Budi Guntoro menyebutkan hal tersebut saat mengikuti pertemuan ke-6 Jaringan Ilmu Hewan Asia Tenggara (SEANAS) yang digelar di Hanoi, Vietnam, 20-22 Juli 2017.”Salah satu agenda Fapet UGM mengikuti pertemuan SEANAS ini, untuk semakin meningkatkan kurikulum Fapet UGM menjadi level dunia,” ujar Budi dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu (23/7).

Ia menjelaskan, bahwa pertemuan SEANAS dilakukan secara regular dengan lokasi berbeda dari setiap negara anggotanya. Pertemuan I hingga IV digelar di UGM sejak tahun 2009-2014. Sementara pertemuan V diadakan tahun 2015 di Chiang Mai, Thailand.”Pertemuan SEANAS ke-6 agendanya diadakan tahun 2016 di Jepang. Namun karena panitianya berhalangan, maka ditunda menjadi saat ini,” jelas dia.

Tujuan pertemuan itu adalah untuk meningkatkan jejaring antar universitas di ASEAN terkait penyusunan kurikulum pembelajaran yang diberikan kepada mahasiswa program studi “animal science”.

Budi menuturkan bahwa target Fakultas Peternakan UGM adalah untuk meningkatkan kualitas kurikulum di level dunia sehingga pada akhirnya meningkatkan mobilitas mahasiswa dan perguruan tinggi yang ingin belajar dari dan ke UGM.

Sebelumnya, Fakultas Peternakan UGM berhasil menemukan probiotik asli ayam kampung Indonesia yang salah satu fungsinya sebagai antibodi bagi unggas yang ada di dalam negeri.”Tanpa pengendalian penggunaan antibiotik pada unggas, akan meningkatkan kasus mikroba kebal terhadap antibiotik,” kata Guru Besar Bidang Ilmu Ternak Unggas Fakultas Peternakan UGM Sri Harimurti dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (4/7).

Menurut dia, dampak dari meningkatnya kasus mikroba yang kebal itu akan mengancam kesehatan manusia, keberlanjutan produksi pangan, dan pembangunan nasional. Karena itu, ia menyatakan bahwa temuan probiotik dari Fapet UGM ini akan berkontribusi nyata dalam menyehatkan masyarakat Indonesia yang menjadi konsumen daging ayam dan telur ayam.

Ia juga menuturkan bahwa usaha untuk mengganti antibiotik telah berhasil dilakukan di berbagai negara maju dengan menggunakan probiotik, sehingga kini telah banyak negara melarang penambahan antibiotik pada pakan unggas, dan sebagai pencegahan penyakit unggas.

“Di Indonesia, probiotik yang beredar di peternak dan digunakan untuk ayam saat ini diragukan kemurnian maupun viabilitas mikrobianya serta bias pada produktivitas yang dihasilkan, karena kemasan dicampur dengan ‘feed additive’, ekstrak herbal dan rempah, vitamin maupun asam amino. Sementara probiotik asli dan murni untuk unggas belum diproduksi secara masal,” jelas dia.