INDOAGRIBIZ–Sejalan dengan kebijakan WHO untuk mengurangi penggunaan berlebih antibiotik pada peternakan dan perikanan, pasal 22 ayat 4 huruf c Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan telah direvisi dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014, menyebutkan bahwa melarang penggunaan pakan yang dicampur hormon tertentu dan/atau antibiotik imbuhan pakan.

Sekalipun undang-undangnya sudah ada, namun hingga tahun ini antibiotik imbuhan pakan belum sepenuhnya dapat dieliminasi. Hal ini dikarenakan jika langsung dihilangkan begitu saja, maka industri perunggasan dapat mengalami krisis. Di antaranya konversi pakan membengkak dan deplesi yang tinggi akibat Necrosis Enteritis.

Namun belakangan ini mencuat kabar, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian, akan memberlakukan larangan penggunaan Antibiotics Growth Promoter (AGP) pad awal 2018 mendatang.

Seminar teknis enzim sebagai alternatifsolusi pelarangan penggunaan AGP.

Alasan utama pelarangan AGP karena sudah tingginya kejadian resistensi bakteri terhadap banyak jenis antibiotik, bahkan antibiotik yang dipersiapkan untuk menangani kasus bakteri multi-resisten. Aturan ini juga sudah diterapkan di beberapa negara. Misalnya Amerika Serikat dan Kanada melarang penggunaan golongan antibiotik yang penting di manusia sebagai AGP.

Alternatif Pengganti AGP

Sebenarnya telah banyak penemuan dan produsen obat yang menawarkan pengganti AGP ini, mulai dari enzim, minyak esensial, asam organik, probiotik, prebiotik, dan lainnya, yang terbukti dapat mengeliminir bakteri yang merugikan pada saluran pencernaan.

Walaupun demikian, penggunaanya tanpa perbaikan mutu pakan di feedmill atau perbaikan manajemen di farm akan sangat tidak mungkin dapat dilakukan demi mendapatkan performa yang maksimal. Perbaikan di feedmill seperti perbaikan kecernaan pakan atau manajemen ammonia di farm tentu akan sangat membantu pengganti AGP tersebut dalam mengontrol flora di saluran pencernaan.

Dalam hal ini, PT Tirta Buana Kemindo (TBK) mendukung kebijakan pemerintah untuk mengganti penggunaan AGP dengan Non AGP. Untuk itu PT TBK menggelar seminar teknis enzim sebagai alternative solusi pelarangan penggunaan AGP. Seminar teknis ini digelar (21/11) di Hotel Santika, Slipi, menghadirkan pembicara pakar enzim Dr. Santosh Ingale dan juga para pelaku dari perusahaan pakan.

“Kami berusaha mendukung kebijakan pemerintah terkait pelarangan penggunaan antibiotik sebagai growth promoter dalam pakan yang sudah digaungkan sejak 2014 lalu, dan rencananya akan diimplementasikan pada 2018 mendatang. Kami selalu mendukung kebijakan pemerintah, seperti pelarangan penggunaan AGP, untuk itu kan harus ada produk yang dapat menggantikan peran AGP yang lebih aman dan baik hasilnya di kandang,” ujar Ivonne, Direktur Utama PT Tirta Buana Kemindo (TBK).

PT TBK mengusung produk enzim DigeGrain Delta Plus yang diproduksi oleh Advanced Enzymes principal dari India. DigeGrain menggunakan teknologi yang mutakhir dan diproduksi oleh produsen enzim terbaik di India. “Lalu sudah digunakan di banyak negara, karena itu PT TBK uji cobakan di Indonesia, dan hasilnya sangat baik,” terang Ivonne.

Dia menginformasikan, produk enzim DigeGrain ini telah diujicobakan di Karawang, hasilnya ayam yang dipelihara dan pakannya dicampurkan dengan DigeGrain pertumbuhannya lebih cepat, dan bobotnya lebih besar. Enzim ini dapat menggantikan penggunaan AGP sekaligus vitamin dan mineral. “Dari percobaan yang kami lakukan hanya menggunakan enzim ini, pertumbuhan ayamnya bisa meningkat sekitar 30 % dari yang tidak diberikan enzim,” ungkap Ivonne.

Dirut Tirta Buana Kemindo Ivvone saat diwawancari wartawan terkait enzim sebagai solusi pengganti AGP.

Dari percobaan yang dilakukan PT TBK menunjukkan, broiler yang dipelihara menggunakan enzim DigeGrain dalam 35 hari pertumbuhan bobotnya dapat mencapai 2,8-3 kg, sedangkan yang tidak diberikan enzim bobotnya hanya mencapai 2,2-2,3 kg pada waktu yang sama. Daging ayamnya pun menjadi lebih padat dan berisi, efisiensi FCR (Feed Convertion Rate) juga bisa dihemat sekitar 0,1. Dari sisi cost harganya relatif murah hanya US$ 7 per kg. Relatif murah walaupun masih sedikit di atas AGP, tapi bisa mereduksi juga cost pembelian vitamin dan mineral dari penggunaan enzim ini.

Dari Rp 91 tambahan cost, bisa menghasilkan sekitar Rp 6 ribu. Kenaikan biaya yang tidak terlalu banyak, menghasilkan biaya yang lebih besar. “Dengan dosis ditinggikan hingga 750 gram per ton efeknya jauh lebih optimal, fcr turun, mortalitas turun,” ujar Ivonne.

Sebagai catatan, Enzim DigeGrain Delta Plus juga sudah digunakan di 45 negara, kualitas dari Vietnam, Malaysia, bahkan Amerika. Ivonne berharap enzim ini bisa menjadi solusi pengganti AGP. “Saya menunggu bapak ibu dari pakan dan peternak untuk mengaplikasikan enzim ini,” tantang Ivonne. [redaksi]