Kementan: Ekspor Sarang Walet Makin Diminati dan Nilainya Terus Meningkat
Jakarta(Indoagribiz) – Menteri Pertanian Republik Indonesia, Syahrul Yasin Limpo
menyebutkan tren ekspor Sarang Burung Walet (SBW) menunjukan
peningkatan signifikan dalam lima tahun terakhir.
Rumah dari burung walet atau Collocalia sp. ini dipercaya memiliki
khasiat bagi kesehatan dan banyak dihasilkan di pulau Jawa, Kalimantan
hingga Sulawesi.
“Ini adalah anugerah dari Tuhan untuk kita, tanpa perawatan khusus
walet memberikan sumbangan devisa negara dan pendapatan bagi petani, “
kata pria yang biasa disapa SYL ini di Jakarta dikutip dari laman
resmi Kementerian Pertanian, Senin (18/1).
Mentan SYL bersyukur bahwa komoditas asal sub sektor peternakan ini
juga mendapat dukungan dari Menteri Perdagangan, M. Lutfi. Dukungan
terhadap komoditas SBW disampaikan saat meluncurkan Platform Dagang
Digital Indonesian Store (IDNStore) pada hari Kamis (14/1) di Jakarta.
Menteri M. Lutfi menyebutkan keyakinannya akan tercapainya pertumbuhan
yang ditargetkan RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional)
dan komoditas ekspor SBW menjadi andalan, bahkan sebagai “harta
karun”.
Sebagai informasi, dari data pada sistem perkarantinaan, IQFAST Badan
Karantina Pertanian (Barantan) tercatat bahwa selama masa pagebluk
Covid 19, jumlah ekspor SBW sebanyak 1.155 ton dengan nilai Rp. 28,9
triliun atau meningkat 2,13% dari pencapaian di tahun 2019 yang hanya
sebanyak 1.131,2 senilai Rp. 28,3 triliun saja.
“Selain sinar matahari, tanah subur dan banyak lagi yang diberikan
Sang Maha Penguasa kepada bangsa ini harus kita jaga, harus kita
kelola,” ajak Mentan.
SBW dapat hidup baik dengan ekosistem yang terjaga, mulai dari hutan,
laut dan sungai sebagai penghasil pakan walet alami.
Saat ini, SBW yang diperdagangkan merupakan komoditas binaan dari
Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH),Kementan untuk
produktivitasnya. Sementara untuk pendampingan eksportasi mulai dari
harmonisasi aturan dan persyaratan teknis sanitasi negara tujuan dan
bimbingan teknis sanitari dan keamanan pangan, food safetynya
dilakukan oleh Barantan.
Masih menurut Mentan SYL, melalui Barantan pihaknya telah melakukan
pendampingan terhadap 23 eksportir SBW RI sehingga berhasil
teregistrasi oleh otoritas karantina pertanian Cina, GACC (General
Administration of Customs of the People’s Republic of China).
Dan tercatat sebanyak 262 ton atau 23% dari total ekspor SBW RI dibeli
oleh Cina. Sebagai pengekspor SBW terbesar didunia, para pelaku usaha
RI banyak menyasar pasar Cina karena harga jual yang lebih tinggi
dibandingkan negara tujuan lain, yakni antara Rp. 25 juta hingga Rp.
40 juta per kilo.
Namun dengan harga yang lebih tinggi ini, secara khusus Cina juga
mempersyaratkan ketentuan registasi bagi tempat pemroses sarang walet
disamping pemenuhan persyaratan teknis tentunya.
Sementara itu, diketahui bahwa tempat pemrosesan sarang walet juga
memerlukan tenaga kerja yang cukup besar atau padat karya, sehingga
mampu memberikan dampak ekonomi berupa peluang kerja bagi masyarakat
sekitarnya.
“Saat ini 13 pelaku usaha tempat pemrosesan sarang burung walet
lainnya tengah kita dampingi untuk penetrasi pasar Tiongkok, semoga
bisa sama-sama kita dukung agar tahun ini selesai,” sebutĀ  SYL lagi.
Sarang Walet RI Laris Di Mancanegara
Kepala Barantan, Ali Jamil yang turut memberikan keterangan
menyampaikan bahwa selain Cina, ada 23 negara tujuan ekspor lain bagi
SBW RI, antara lain Australia, USA, Kanada, Hongkong, Singapore,
Afrika Selatan dan lainnya.
“Setiap negara tujuan memiliki protokol ekspor masing-masing dan kami
selaku otoritas karantina mengawal persyaratan teknisnya, ” kata
Jamil.
Jamil juga menyebut pihaknya telah memiliki laboratorium pengujian
yang telah diakui oleh negara mitra dagang. Selain percepatan layanan,
pihaknya juga juga terus melakukan inovasi teknologi perkarantinaan
untuk memfasilitasi pertanian diperdagangan internasional.
Jamil kembali menambahkan, partisipasi dan dukungan dinas pertanian,
peternak dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan komoditas SBW
sangat diperlukan.
Salah satunya terhadap ancaman penyakit flu burung atau avian
influenza (AI). Kita pernah mengalaminya di tahun 2005 dan diperlukan
upaya yang panjang untuk mengendalikannya, tuturnya.
“Bersama kita jaga, laporkan jika melaluilintaskan unggas khususnya
kepada petugas karantina agar SBW tetap dapat berkontribusi pada
pemulihan ekonomi nasional, ” tukas Jamil.
Sumber foto : laman resmi Kementerian Pertanian