Meski Pandemi, Ekspor Produk Olahan Peternakan Tetap Jalan, Semakin
Diminati Pasar Luar Negeri
Jakarta – Kinerja ekspor pertanian terus menunjukkan kinerja positif
meski dihantam badai pandemi, setelah Juli tahun ini mengalami
pertumbuhan sebesar 24,10% dibanding bulan sebelumnya. Kali ini
kinerja ekspor pertanian kembali datang dari produk olahan peternakan
(unggas), satu kontainer berisi 6 Ton Varian Produk Olahan Peternakan
milik PT. Malindo Food Delight secara perdana tembus ke pasar Jepang.
Saat melepas ekspor tersebut, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo
mengatakan pertanian Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk
memenagkan pasar ekspor, bahkan produk olahan peternakan juga
menyimpan potensi untuk dikembangkan menjadi komoditas ekspor
unggulan.
“Ini tandanya kita mampu untuk tetap maju, tidak menyerah melawan
pandemi untuk kemajuan bangsa dan rakyat, saya siap dan saya pastikan
Kementerian Pertanian akan terus mendukung langkah ini, jangan dilihat
dari besar kecilnya, tidak ada yang besar tanpa melalui langkah kecil”
ungkap Syahrul di Pabrik PT. Malindo Food Delight – Kota Delta Mas,
Cikarang, dikutip dari laman resmi Kementerian Pertanian, Kamis (3/9).
Ekspor daging ayam olahan ke Jepang, lanjut Syahrul, dapat menjadi
pembuktian bahwa industri ayam olahan Indonesia sudah sangat maju
sehingga mampu menembus pasar Jepang yang dikenal sebagai negara
pemegang keamanan pangan yang tinggi.
“Ekspor ini adalah sebuah prestasi, mengingat Jepang termasuk negara
yang paling ketat dalam hal keamanan pangan, dan semua produk yang
kita ekspor ini telah disertai Sertifikat Veterinary Health
Certificate (VHC) sebagai jaminan kemanan pangan dari Indonesia kepada
Jepang” terang Syahrul.
Syahrul menyebut, potensi pasar produk makanan olahan berbasis unggas
di Jepang maupun negara lainnya masih sangat terbuka lebar. Ia
berharap agar seluruh pihak dapat secara cerdas memanfaatkan peluang –
peluang pasar yang dibentuk akibat pademi covid 19 saat ini.
“Dengan keberhasilan kita menembus pasar Jepang ini, Indonesia akan
lebih percaya diri untuk memasuki pasar di negara-negara lain. Sesuai
arahan Presiden jangan ada yang diam, semua harus bergerak, targetnya
meningkat 10 kali lipat, saya berharap kita semua dapat menjaga
konsistensi mutu dan efisiensi sehingga dapat terus bersaing di pasar
Internasional” tegas Syahrul.
Syahrul mengatakan ekspor dapat menjadi salah satu upaya yang
strategis untuk membangun perekonomian dan harga diri bangsa, ia
berharap peluang ekspor ini dapat turut membuka peluang kerjasama para
pengusaha dengan peternak ayam mandiri.
Sementara itu, Direktur Malindo Group, Lau Joo Hwa yang turut
mendampingi Menteri Pertanian pada pelepasan ekspor, mengatakan ekspor
perdana makanan olahan ke negara Jepang dapat dijadikan momentum bagi
seluruh pihak untuk ikut berperan membangun bangsa dan negara.
“Semoga ekspor ini dapat memberi energi yang luar biasa untuk kami dan
seluruh pihak dalam mencari peluang – peluang pasar ekspor lainnya,
upaya ini sekaligus sebagai upaya kami mendukung gerakan Kementerian
Pertanian dalam meningkatkan tiga kali ekspor lewat program Gratieks,”
ungkap Joo Hwa.
Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil yang turut
hadir dan menyerahkan sertifikat kesehatan karantina atau health
certificate (HC) menyampaikan bahwa produk olahan ini telah melalui
serangkaian tindakan di Karantina Pertanian Tanjung Priok.
Tindakan berupa yang pemeriksaan kesesuian dokumen dan fisik. “Karena
ini sudah berupa olahan, maka pemeriksaan dalam kategori low risk dan
dilakukan sesuai protokol ekspor yang dipersyaratkan Jepang,” kata
Jamil.
Sebagai informasi ekspor perdana produk daging ayam olahan dari PT.
Malindo Food Delight ini terdiri dari beberapa varian produk
diantaranya SunnyGold Nugget, SunnyGold Tempura, SunnyGold Karage
Black Pepper dan SunnyGold Chicken Spicy Karage dengan nilai sekitar
156 Juta Rupiah untuk tujuan Jepang.
Sumber foto : laman resmi Kementerian Pertanian