INDOAGRIBIZ–Duet Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan dalam mengawal stok dan harga beras terbilang sukses. Sinergi keduanya terjalin dengan baik. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukit mengibaratkan koordinasi keduanya lebih dari sekadar makan yang hanya tiga kali sehari. Koordiasi kedua kementerian tersebut malah lima kali sehari untuk mengawal harga dan ketersediaan beras di pasaran.

“Kami duet maut, (Kementan dan Kemendag); sehingga kami saling mengisi. Kami berkomunikasi lebih dari makan sehari (yang) lebih dari 3 kali. Hari ini sudah 5 kali, beliau mengecek mengenai harga terus-terusan, saya juga mengecek mengenai stok mengenai produksi. Dengan komunikasi yang terjalin seperti ini, kita bisa tahu kebijakan yang kita tempuh dan selalu kita berkomunikasi mengenai berbagai hal,” jelas Enggar di sela Operasi Pasar di Pasar Induk Beras Cipinang, pada Rabu (11/10/17).

Menurutnya, penentuan HET (Harga Eceran Tertinggi) merupakan proses panjang yang melibatkan pedagang yang didasari oleh kepentingan nasional dan rasa nasionalisme. HET yang ditetapkan pemerintah, katanya, untuk menjaga daya beli masyarakat. “Jadi kalau tidak ditetapkan HET, maka bulan lalu beras sudah dijadikan ajang spekulasi dan langsung harga naik ke atas, inflasi meningkat, daya beli mayarakat menurun,” lanjut Enggar.

Sementara iru Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiiman menegaskan, pengendalian stok beras nasional yang maksimal dengan skema penanaman padi yang berkelanjutan berperan besar dalam menjaga harga beras tetap stabil dan kebijakan HET dapat berjalan maksimal.

“Hukum pasar pun tidak terganggu, dengan kebutuhan masyarakat yang mampu dipenuhi dari produksi yang ada, harga menjadi stabil dan mudah dikendalikan,” ujar Amran.

Ditambahkan, pengawasan dari kementerian dan Lembaga yang terlibat, khususnya Satgas Pangan, pun mampu meminimalisir kecurang-kecurangan yang terjadi.

Lebih jauh Mentan Amran mengatakan, kondisi pengelolaan perberasan di Indonesia saat ini dapat dikatakan mampu memberikan kenyamanan bagi segenap pihak. Mulai dari hulu sampai hilir, pemerintah telah berusaha memperbaiki sistem, manajemen, serta sarana dan prasarana pendukung yang mampu memberikan kemajuan positif bagi industri perberasan.

Dari sisi produksi, katanya, Kementerian Pertanian menjamin bahwa bangsa Indonesia tidak lagi mengenal paceklik beras yang biasanya terjadi di akhir hinggal awal tahun. Manajemen pola tanam menjadi kunci keberhasilan ini.

“Pemberian bantuan sarana dan prasarana pendukung yang tepat sasaran seperti pompa, pembuatan dan perbaikan aluran irigasi, serta pembuatan embung membuat penanaman padi tidak bergantung pada musim penghujan,” pungkas Amran. (MOH/NSS)