Dongkrak Produktivitas, Ditjenbun Rehabilitasi Kebun Cengkeh

Jakarta (Indoagribiz)— Cengkeh merupakan salah satu komoditas perkebunan yang strategis untuk dikembangkan. Komoditas yang tersebar hampir di seluruh kawasan tanah air sudah sejak lama menjadi sandaran hidup petani.  

Guna mendorong produksi dan produktivitas cengkeh, Direktorat Tanaman Semusim dan Rempah, Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian (Kementan), pada tahun 2022 mendatang akan melakukan rehabilitasi tanaman cengkeh yang sudah tua di sejumlah sentra budidaya cengkeh.

Direktur Tanaman Semusim dan Rempah, Direktorat Jenderal Perkebunan,  Kementan, Hendratmojo Bagus Hudoro mengatakan, pemerintah pada tahun 2021 telah melakukan pengembangan cengkeh berupa kegiatan rehabilitasi seluas 100 Ha di sentra produksi. Diantaranya, di Kabupaten Toli-toli (Sulawesi Tengah), Kabupaten Purwakarta (Jawa Barat), Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Jawa Timur dan Maluku.

Rehabilitasi ini dilakukan untuk mendorong peningkatan produksi dan produktivitas cengkeh yang kurun lima tahun terakhir relatif  menurun. Apabila  pada tahun 2015 produktivitasnya 441 Kg/Ha, maka pada 2020 produktivitasnya sebesar 416 Kg/ha.

“  Pada tahun 2022, rencananya juga dilakukan pengembangan kebun cengkeh. Tepatnya dilakukan rehabilitasi  sejumlah kebun cengkeh melalui pendekatan kawasan dengan benih unggul. Diharapkan dengan cara tersebut, produktivitasnya akan meningkat,” kata  Bagus , di Jakarta, Selasa (16/11).

Rehabilitasi kebun cengkeh pada tahun 2022 akan dilakukan di sejumlah sentra budidaya cengkeh. Diantaranya di di Sulawesi, Jawa Barat (Jabar), dan Sumatera. Pendekatan rehabilitasi yang akan dilakukan berdasarkan kawasan. Selain perbaikan di hulu, di tingkat hilirnya juga dikembangkan, sehingga petani cengkeh memiliki nilai tambah.

“ Karena pendekatannya kawasan, diharapkan nantinya akan lebih mudah untuk distribusi dan pasarnya,” ujarnya.

Bagus mengungkapkan, selama ini kebutuhan cengkeh dalam negeri masih tercukupi. Rata-rata kebutuhan cengkeh nasional 120-140 ribu ton/tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 95 persen digunakan untuk mensuplai  komponen bahan baku industri hasil tembakau (industri rokok). Sedangkan sisanya, sebanyak 5 persen untuk memenuhi kebutuhan farmasi dan aneka makanan (pangan).

Tercatat, luas area cengkeh nasional mencapai 574.76 hektar (Ha). Produksinya sebanyak 140.812 ton/ tahun,  serta produktivitas rata-rata 416 kg/Ha. Produksi cengkeh ini hampir semuanya terserap pasar. Indonesia merupakan negara produsen sekaligus konsumen terbesar cengkeh.

Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, cengkeh yang diproduksi petani juga diekspor ke sejumlah negara. Bahkan, pada tahun 2020 ekspor komoditas cengkeh cukup signifikan. Tercatat, ekspor cengkeh mengalami kenaikan pada 2020, yang disebabkan tingginya permintaan negara importir. Pada 2020, volume ekspor sekitar 47,7 ribu ton. Sedangkan  pada tahun 2019 volume ekspornya mencapai 25,9 ribu ton.

Penghasil Cengkeh Dunia

Di tempat terpisah, Sekjen Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI), I Ketut Budhyman Mudara  mengatakan,  untuk meningkatkan produksi dan produktivitas kebun cengkeh petani seluas 500 ribu ha, langkah yang tepat apabila pemerintah melakukan rehabilitasi tanaman yang sudah tua. Selain rehabilitasi, perlu juga dilakukan intensifikasi di hulunya.

“ Kebun cengkeh seluas 500 ribu ha ini harus dilakukan rehabilitasi agar Indonesia bisa menjadi produsen cengkeh dunia dan kejayaan cengkeh bisa dikembalikan seperti sebelum tahun 80-an. Saya rasa tak perlu dilakukan ekstensifikasi dulu,” kata Budhyman.

Budhyman mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar sebagai negara penghasil cengkeh dunia. Mengingat, kebun cengkeh terbentang  dari bagian timur sampai barat Indonesia, yang hingga saat ini menjadi sandaran hidup petani.

“ Sayangnya harga cengkeh di tingkat petani sejak tahun 2015 terus mengalami penurunan, sebagai dampak terbukanya impor cengkeh. Namun, tahun ini harga cengkeh mulai naik sedikit sebesar Rp 100 ribu/Kg,” ujarnya.

Trend produksi rokok sigaret  kretek mesin yang volumenya cukup besar, lanjut Budhyman, juga berdampak terhadap penyerapan produksi cengkeh petani. Membanjirnya, produk rokok sigaret kretek mesin ini berdampak terhadap menurunnya volume penggunaan cengkeh di sejumlah pabrik rokok.

Menurut Budhyman, saat ini produksi cengkeh juga menurun, sehingga semua cengkeh petani terserap pasar. Jika sebelum tahun 2015 harga cengkeh bisa tembus Rp 120 ribu-Rp 130 ribu/Kg, maka saat ini harga paling tinggi sekitar Rp 100 ribu/Kg.

“ Harganya bahkan sempat turun Rp 60 ribu- Rp 70 ribu/Kg, namun saat ini dengan produksi yang tak banyak, hargapun mulai naik menjadi  Rp 100 ribu/Kg,” katanya.

Guna menjaga stabilitas harga cengkeh di tingkat petani, tentunya sejumlah petani harus melakukan kemitraan dengan industri. Selain itu, pemerintah juga perlu melakukan perbaikan tata niaga cengkeh.

“Jadi, kalau hulunya dilakukan rehabilitasi, maka hilirnya harus diimbangi dengan perbaikan tata niaga. Saya yakin kalau hulunya diperbaiki, produktivitasnya bisa mencapai 2-3 ton/ha. Selain produktivitasnya meningkat, kulitas cengkeh yang dihasilkan  petani juga akan membaik, sehingga petani memiliki daya tawar tinggi,” paparnya.

Budhyman juga mengaku, selain tetap menjual raw material, sudah selayaknya petani cengkeh memulai melakukan diversifikasi usaha. Mengingat, cengkeh ini selain bisa dikembangkan menjadi minyak cengkeh yang harganya tinggi, juga bisa dibuat menjadi pengawet makan yang menyehatkan.

“Jadi, kami sangat mendukung langkah pemerintah yang melakukan rehabilitasi dan peningkatan di hilirnya agar petani memiliki nilai tambah,” pungkasnya. (ind/Humas Ditjen Perkebunan)

Sumber Foto. Dok: Indarto