INDOAGRIBIZ–Departemen Teknologi Pertanian Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI) mendukung upaya pemerintah untuk mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045.

Sekretaris Departemen Teknologi Pertanian MN KAHMI Abiyadun mengatakan untuk mempercepat dan mewujudkan hal itu pihaknya mengusulkan terobosan, yakni diversifikasi teknologi pertanian yang spesifik lokasi.

“Kita patut mengapresiasi kerja keras pemerintahan Jokowi-JK yang mengutamakan program teknologi khususnya dengan nyata memberi bantuan mekanisasi pertanian yang sangat besar. Kami akan dorong agar teknologi pertanian sesuai dengan kebutuhan petani setempat sehingga program yang diarahkan pemerintah dapat diterapkan,” kata Abiyadun dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (19/3).

Alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus HMI Cabang Bogor ini menuturkan pentingnya teknologi mekanisasi pertanian dalam meningkatkan kesejahteraan petani karena dipastikan dapat menghemat biaya dan mencegah kehilangan panen. Menurut dia, teknologi pertanian yang mendesak dibutuhkan adalah teknologi untuk menangani pra dan pascapanen.

“Seperti yang pernah disampaikan Menteri Pertanin Andi Amran Sulaiman, teknologi mekanisasi pertanian dapat meningkatkan produksi sebanyak 10 persen, mengurangi kehilangan panen 10,2 persen dan mampu menghemat biaya produksi mencapai 40 persen. Jadi ini harus kita dorong,” tutur Abiyadun.

Ia mencontohkan, analisis usaha tani pada komoditas hortikultura dengan dukungan mekanisasi modern yang ditelah diluncurkan Badan Litbang Kementerian Pertanian pada tahun lalu, dapat menekan biaya untuk bawang merah Rp33,9 juta per hektar atau efisiensinya 45 persen.”Kemudian untuk cabai mampu menekan biaya Rp 28,6 juta perhektar atau efisiensi 38 persen dibandingkan secara manual,” kata Abiyadun.

Sementara itu, anggota Departemen Teknologi Pertanian MN KAHMI Yayan Suherman menegaskan terobosan yang tidak kalah pentingnya lagi untuk mengejewantahkan terwujudnya Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia, yakni perlu dihidupkannya kembali misalnya lumbung pangan komunitas dengan teknologi rendah.

“Majelis Nasional KAHMI nanti menjadi wadah terwujudnya hal ini. Koordinasi atau pun kerja sama dengan pihak perguruan tinggi, pelaku usaha dan pemerintah sendiri menjadi langkah awal dan utama. Sinergitas yang serius tiga elemen ini harus kita dorong sampai kongkrit,” kata Yayan.

Alumnus HMI Universitas Hasanuddin (Unhas) itu mengatakan terobosan ini sangat penting guna mendorong pemuda di perdesaan terjun ke sawah menjadi petani. Ia berpendapat, pemuda memiliki kemampuan untuk melakukan inovasi atau terobosan baru sehingga dapat mengoptimalkan dan membangunkan potensi lahan cukup luas seperti lahan tidur, rawa, dan pasang surut.

“Dulu kan para pemuda tidak mau ke sawah karena bertani kita sangat tradisional dan penghasilannya sangat rendah jika dibanding kerja di sektor industri atau lainnya. Padahal menjadi petani penghasilannya jauh lebih besar. Apalagi bertani dengan teknologi modern, sambil mesin panen saja bisa sambil menelpon dan tidak kotor,” ujar dia.

Oleh karena itu, kata dia, jika pemuda bergerak, maka pihaknya optimistis cita-cita Indonesia menjadi lumbung pangan dunia dapat terwujud.”Dan mampu merealisasikan nawacita yakni membangun negara dari pinggiran melalui sektor pertanian,” kata Yayan. [moh]