Ditjenbun Kembangkan Kelapa, Kopi dan Komoditas Potensial Ekspor

Jakarta (Indoagribiz)—- Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian (Kementan) hingga saat tetap fokus mengembangkan sejumlah komoditas utama yang potensial untuk ekspor. Diantara,  komoditas tersebut adalah, kelapa, kopi, kakao, karet, jambu mete, sagu, pinang, dan sejumlah komoditas  unggulan lainnya melalui peremajaan, intensifikasi, ekstensifikasi, baik secara regular maupun  dalam rangka pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar, Heru Tri Widarto mengatakan,  sepanjang tahun 2021, Direktorat Tanaman Tahunan dan Penyegar, Ditjen Perkebunan, Kementan telah mengembangkan kawasan kelapa seluas 10.637 ha dengan anggaran Rp 65,74 miliar. Kawasan kelapa yang dikembangkan tersebut terdiri dari regular seluas 1.280 ha dengan anggaran Rp 4,28 miliar dan 9.357 ha dalam rangka pemulihan ekonomi nasional (PEN) sebesar Rp 61.45 miliar.

Menurut Heru, pengembangan kelapa tahun ini merupakan kegiatan dengan cakupan yang relatif luas. “ Sedangkan pada tahun 2022 akan dikembangkan kawasan kelapa seluas 11.000 ha , terdiri dari perluasan 5.100 ha, peremajaan 4.900 ha dan intensifikasi 1.000 ha,”  ujar Heru, di Jakarta,  Selasa (9/11).

Pengembangan kawasan kelapa yang dilakukan Direktorat Tanaman Tahunan dan Penyegar, Ditjen Perkebunan, Kementan, realisasinya sampai 14 Oktober 2021, seluas  4.672 ha (44%). Sedangkan anggaran terserap sebesar Rp 28,07 miliar (42,94%).

Data Direktorat Tanaman Tahunan dan Penyegar, Ditjen Perkebunan, Kementan menyebutkan, untuk  jenis kelapa dalam dialokasikan  anggaran seluas 7.500 ha dengan kebutuhan benih 900.000 batang.  Realisasinya sampai 14 Oktober  sudah mencapai 534.000 batang . Kelapa genjah dialokasikan 3.007 ha dengan kebutuhan benih 357.000 batang,  realisasinya sebanyak  101.860 batang.

Kegiatan kedua terbesar adalah pengembangan kawasan kopi. Tercatat,  pengembangan kawasan kopi  pada 2021 seluas 6.731 ha dengan anggaran Rp 73,61 miliar. Anggaran tersebut  terdiri dari reguler 300 ha dengan anggaran Rp4,73 miliar dan PEN  seluas 6.071 ha dengan anggaran Rp 68,87 miliar. Realisasi sampai 14 Oktober 2021 , seluas  2.141 ha (34,14%) dengan anggaran Rp28,7 miliar (38,71%).

Kebutuhan benih kopi untuk reguler 300.000 batang,  realisasinya  sudah mencapai  200.000 batang.Sedang untuk PEN  sebanyak 5.941.000 batang sudah dipenuhi 1.941.000 batang.

Sesuai rencana, pada tahun 2022 akan dikembangkan  kawasan kopi seluas 18.500 ha. Pengembangan tersebut, terdiri  dari perluasan 1020 ha dan intensifikasi 17.480 ha. Perluasan kopi terdiri dari kopi robusta di DI Yogyakarta 50 ha dengan kebutuhan benih 50.000 batang dan Sulawesi Tenggara 100 ha dengan kebutuhan benih 100.000 batang.

Kemudian, perluasan kopi arabika di Jawa Barat seluas 200 ha, dengan kebutuhan benih 200.000 batang. DI Yogyakarta seluas 50 ha dengan kebutuhan benih 50.000 batang. Kemudian,  Papua 500 ha dengan kebutuhan benih 500.000 batang. Selanjutnya, Papua Barat 20 ha dengan kebutuhan benih 20.000 batang , dan Sumatera Utara 100 ha dengan kebutuhan benih 100.000 batang.

Selanjutnya, untuk kakao juga dilakukan pengembangan di kawasan seluas 2.955 ha dengan anggaran Rp 48,94 miliar. Pengembangan tersebut terdiri dari reguler 1.575 ha dengan anggaran Rp25,1 miliar dan PEN 1.420 ha dengan anggaran Rp28,43 miliar. Realisasi sampai 14 Oktober 2021 seluas  2.575 ha (85,98%) dengan serapan anggaran Rp 38,82 miliar (79,47%).

Tercatat,  kebutuhan benih kakao untuk reguler sebanyak 1.575.000 batang sudah terealisasi semua. Sedang dalam rangka PEN kebutuhan benih 1.420.000 batang , sudah terealisasi 1.000.000 batang.  Sesuai rencana, pada tahun 2022 akan dilakukan pengembangan  kawasan kakao  seluas 5.550 ha,  terdiri dari perluasan 200 ha, peremajaan 4.250 ha dan intensifikasi 1.100 ha.

Kemudian untuk pengembangan kawasan karet pada tahun 2021  seluas  1.210 ha dengan anggaran Rp12,38 miliar. Pengembangan tersebut ter diri dari reguler 510 ha dengan anggaran Rp 5,11 miliar dan PEN 9.357 ha dengan anggaran Rp61,45 miliar. Realisasinya seluas 1.110 ha (91,74%) dengan serapan anggaran Rp10,61 miliar (86,79%). Kebutuhan benih karet reguler 255.000 batang sudah terealisasi seluruhnya. Sedang dalam rangka PEN sebanyak 350.000 batang , realisasinya 300.000 batang.

Sesuai rencana,  pada tahun 2022  akan dilakukan pengembangan karet  seluas 5.900 ha terdiri dari perluasan 100 ha, peremajaan 1.250 ha dan intensifikasi 4.550 ha. Kebutuhan benih karet tahun 2022 diperkirakan mencapai 675.000 batang. Kebutuhan bibit terdiri dari perluasan dengan satker BPTP Pontianak 50.000 batang. Sedang untuk peremajaan dengan satker Jambi 300 ha benih 150.000 batang, Sumsel 450 ha 225.000 batang, Kalsel 200 ha 100.000 batang, dan Ditjenbun 300 ha sebanyak 150.000 batang.

Menurut Heru, pengembangan kawasan jambu mete pada tahun 2021 seluas 1.650 ha  dalam rangka PEN  dengan anggaran Rp6,35 miliar. Realisasinya, hingga saat ini seluas  175 ha (10,61%) dengan serapan anggaran Rp 1,09 miliar (17,12%).  Sedangkan kebutuhan benih sebanyak 198.000 batang, realisasinya baru mencapai 33.000 batang.

Sesuai rencana, pada tahun 2022 akan dilakukan pengembangan  kawasan jambu mete dalam rangka PEN seluas 1.075 ha,  terdiri dari perluasan 200 ha dan peremajaan 875 ha. Perluasan satker Bali dan Maluku Utara masing-masing 100 ha dengan kebutuhan benih masing-masing 12.000 batang. Kemudian,  Satker Ditjenbun untuk peremajaan 225 ha dengan kebutuhan benih 27.000 batang dan BBP2TP Surabaya sekuas 450 ha, dengan kebutuhan benih 54.000 batang.

“ Kegiatan juga menyasar pada pengembangan kawasan sagu (reguler) seluas 901 ha dengan anggaran Rp 5,1 miliar.Realisasinya sampai saat ini sudah mencapai 601 ha (66,7%) dengan serapan anggaran Rp 3,67 miliar (71,96%). Tercatat, kebutuhan benih sebanyak 20.000 batang sudah terealisasi semua,” jelas Heru.

Sesuai rencana, pada tahun 2022 akan dilakukan pengembangan sagu di lahan seluas 1.000 ha , yang terdiri dari perluasan 200 ha dan penataan 800 ha. Perluasan sagu 100 ha dilakukan di Riau dan satker BBP2TP Medan seluas 100 ha. Sedangkan kebutuhan benih masing-masing sebanyak 12.000 batang.

Direktorat Tanaman Tahunan dan Penyegar, Ditjen Perkebunan, Kementan juga mengembangkan komoditas pinang  pada tahun 2021 di lahan seluas 400 ha dengan anggaran Rp 6,86 miliar. Kemudian, aren seluas 125 ha dengan anggaran Rp 955,83 juta. Realisasinya sampai saat ini sudah mencapai 425 ha (80,95%) dengan anggaran Rp 4,93 miliar (63,1%).

Kebutuhan benih aren tercatat sebanyak 15.000 batang sudah terealisasi sepenuhnya. Sedangkan untuk komoditas pinang sebanyak 400.000 batang, hingga saat ini sudah  terealisasi sebanyak 300.000 batang. Diharapkan, hingga akhir tahun ini semua kegiatan bisa terealisasi sesuai target.  (Humas Ditjen Perkebunan)

Sumber Foto, Dok: Humas Ditjen Perkebunan