Ditjenbun Dorong Ekspor Perkebunan Bernilai Tambah

Jakarta (Indoagribiz)— Komoditas perkebunan memiliki potensi ekspor yang bernilai tinggi. Karena itu, Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjebun) Kementerian Pertanian (Kementan) mengarahkan ekspor komoditas perkebunan untuk produk bernilai tambah tinggi, seperti semi produk, second dan third produk, bahkan produk jadi atau industri.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HP), Ditjen Perkebunan, Dedi Junaedi mengatakan, seperti komoditas kopi memiliki potensi nilai ekspor yang tinggi apabila ada perbaikan dari hulu-hilir. Tercatat, potensi ekspor kopi mencapai Rp 73,79 triliun, sementara capaiannya hanya Rp 13,48 triliun. Artinya ada kehilangan (loss) potensi ekspor sebanyak Rp 60,30 triliun.

“ Guna menekan  potensial loss tersebut perlu perbaikan di hulu hingga hilir. Misalnya, melakukan peremajaan tanaman kopi yang sudah tua dan rusak dan mendorong petani untuk menjual produknya dalam bentuk olahan,” kata Dedi Junaedi, dalam sebuah webinar, di Jakarta, Jumat (12/11).

Dedi juga menilai, apabila dilakukan perbaikan dari hulu-hilir, untuk meningkatkan ekspor tiga kali lipat kurun lima tahun ke depan tidaklah sulit. Karena itu, komoditas perkebunan yang potensial untuk ekspor akan dibenahi di hulu dan dilakukan penguatan di hilirnya.

Data P2HP, Ditjen Perkebunan, Kementan menyebutkan,  hingga kini produksi kopi dunia masih didominasi Brasil, dengan volume sekitar 3,77 juta ton (37 persen pangsa dunia). Kemudian Vietnam 1,87 juta ton (18 persen). Disusul Kolombia 0,83 juta ton (8 persen).

Sedangkan Indonesia menempati urutan ke empat, dengan produksi 0,57 juta ton (8 persen). Sisanya diproduksi negara lain seperti Amerika Selatan, Afrika, dan Asia. Dari aspek produktivitas, Vietnam juga masih tertinggi, yakni 2,3 ton/ha. Kemudian disusul Brasil 1,4 ton/ha, Kolombia 0,9 ton/ha dan Indonesia 0,7 ton/ha.

Data juga menyebutkan, agribisnis kopi di Indonesia di kelola sekitar 1,7 juta petani. Dari  produksi kopi yang ada di Indonesia  sebagian besar atau sekitar 90 persen diproduksi petani kecil.

Menurut Dedi,  untuk mengembangkan dan meningkatkan produktivitas kopi, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Ditjenbun bersama segenap stakeholder membangun agribisnis kopi yang berdaya saing dan berkualitas.  Kebijakan pengembangan kopi nasional ke depan difoksukan pada upaya percepatan peningkatan produksi, nilai tambah dan daya saing melalui peremajaan, perluasaan, rehabilitasi dan intensifikasi berbasis kawasan.

Dalam berbagai kesempatan, Ketua Umum Dewan Kopi Indonesia (Dekopi),Anton Apriyantono mengungkapkan, budidaya kopi perlu diperbaiki dengan bibit unggul supaya produktivitasnya tinggi. Sedangkan di hilirnya, perlu penanganan pasca panen lebih bagus lagi, agar petani mendapat nilai tambah

“ Antara hulu dan hilir harus ditemukan supaya jaringan pasarnya lebih dekat, harga lebih baik di tingkat petani. Begitu juga di tingkat petani sudah memiliki produk kopi bernilai tambah,” ujar Anton, dalam sebuah webinar.

Anton juga mengatakan, kelembagaan petani kopi juga diperkuat. Diharapkan eksportir bisa menjadi penjamin petani dalam mengembangkan produksinya. Mengingat sampai saat ini ekspor kopi sudah berjalan ke sejumlah negara. Tercatat, dari sekitar 600 ribu ton/tahun produksi kopi nasional, sebanyak 60%-nya untuk memenuhi pasar ekspor ke Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, China, Rusia, dan Timur Tengah.

Produk Turunan

Lebih lanjut, Dedi mengatakan,  selain peningkatan di hulu, ada sejumlah komoditas perkebunan yang memiliki nilai tambah yang cukup signifikan untuk dikembangkan di hilirnya. Misalnya, petani kelapa sawit tak hanya menjual tandan buah segar (TBS), karena sawit ini bisa dikembangkan (PKF-nya, biomassa, minyak goring/RBD, bio diesel, POMF, FAMf dll). Begitu juga untuk karet, bisa dikembangkankan dalam bentuk SIR, sarung tangan, ban dan pruduk bernilai tambah lainnya.

Sedangkan, komoditas kelapa bisa dikembangkan menjadi VCO, CCO, charcoal, coco fiber, cocopeat, nata de coco dan produk turunan lainnya. Begitu juga kakao bisa dikembangkan cocoa powder, cocoa cake, nata dengan cocoa, cocoa pasta, cocoa butter,cokelat dan produk turunannya.

Komoditas kopi bisa dikembangkan menjadi kopi bubuk, roasted, roasted dan turunannya. Untuk rempah bisa dijual dalam bentuk produk powder dll. Teh bisa dikembangkan menjadi herbal tea, organik tea dll.  Produk mete bisa dikembangkan menjadi kacang mete, varian rasa kacang mete plus cokelat dll.

Dedi juga berpesan agar petani (pekebun) bisa memanfaatkan KUR dalam mengembangkan usaha agribisnisnya. KUR sektor pertanian yang dicanangkan pemerintah sudah semestinya dimanfaatkan para pekebun untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah.

Realisasi KUR perkebunan pada tahun 2021 per  4 Oktober   sudah mencapai Rp 22 triliun, atau melebihi target yang ditentukan sebesar Rp 20 triliun. Diperkirakan, realisasi KUR hingga akhir tahun ini akan terus bertambah. “Paling tidak ada 17 komoditas yang telah memanfaatkan KUR,” ujarnya.

Ditjenbun juga mendorong investasi baru seperti tanaman stevia di Minahasa. Tanaman penghasil gula ini banyak yang dilirik investor. Bahkan, sejumlah investor Korea telah siap membangun industri hilirnya untuk ekspor. Stevia ini sangat potensial dikembangkan. Tanaman yang bisa dijadikan pemanis  ini bisa dikonsumsi bagi penderita diabetes karena rendah kalori.

“ Tanaman stevia ini sangat cocok dikembangkan di Indonesia. Tanaman yang bisa hidup di ketinggain 700 meter ini bisa dikembangkan di lahan datar. Tanaman ini juga prospektif dikembangkan,” pungkasnya, (ind/Humas Ditjen Perkebunan)

Sumber Foto. Dok : Humas Ditjen Perkebunan