Disiapkan Induk Unggul untuk Genjot Produksi Udang

Jakarta (Indoagribiz)—- Udang vaname hingga saat ini  masih menjadi primadona ekspor produk perikanan budidaya. Pada tahun 2024, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan Indonesia mampu memproduksi udang sebanyak 2 juta ton, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Guna  merealisasikannya, KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) dengan  memproduksi induk udang vaname berkualitas.

“Untuk memproduksi udang 2 juta ton tentu perlu adanya jaminan ketersediaan induk udang unggul dan benih bermutu di seluruh sentra produksi budidaya udang. Karena dengan induk yang berkualitas, akan menghasilkan benih yang berkualitas pula. Dengan benih yang berkualitas maka hasil produksi bisa lebih maksimal,” kata Tebe, sapaan akrab Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, KKP, Tb Haeru Rahayu dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (24/12).

Menurut Tebe, salah satu faktor penting dalam mengembangkan usaha budidaya udang adalah penyediaan induk unggul dan benih bermutu. Jika terjadi penurunan kualitas induk dan benih, maka seluruh produksi akan mengalami penurunan kualitas. Selain itu, dengan benih yang unggul itu diharapkan  mampu tahan terhadap serangan virus sehingga target  yang sudah kita tetapkan dapat tercapai.

Indukan yang baik, kanjut Tebe,  harus Specific Phatogen Free (SPF), bebas inbreeding dan hasil performance test-nya baik dari sisi pertumbuhan, salinitas rendah, dan ketahanan terhadap penyakit. Dengan begitu produksi bisa maksimal.

Tebe mengatakan,  untuk mendapatkan induk udang  berkualitas, tak hanya dikembangkan oleh pemerintah saja. Tapi bisa juga kerja sama dengan swasta agar terhindar masalah ketersediaan induk udang ke depannya. Induk udang Indonesia bisa komparatif dengan indukan impor seperti dari Kona Bay dan High Health yang berasal dari Hawaii.

“Sinergi pemerintah dan swasta penting disini agar produksi bisa berjalan dan tidak ada masalah ke depannya. Karena semua menginginkan kita bisa menjadi salah satu produsen terbesar udang vaname dan mampu menjadi yang pertama untuk penyuplai udang vaname di pasar internasional. Sehingga subsektor perikanan budidaya menjadi penyumbang devisa negara bisa terwujud,” kata Tebe.

Menurut Tebe, perusahaan-perusahaan swasta perlu didorong dalam memproduksi induk unggul di dalam negeri, sehingga  bisa lebih banyak dan lebih cepat menghasilkan induk udang unggul. Salah satunya PT Induk unggul yang merupakan perusahaan yang memproduksi induk di dalam negeri dengan nama Global Gen.

Tebe menambahkan peranan swasta sangat diharapkan dalam upaya penyediaan induk dan benur yang berkualitas. Seperti di antaranya induk yang memiliki keunggulan tertentu seperti Fast Growth atau Induk yang Specific Pathogen Free (SPF). DJPB melalui Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPIUUK) Karangasem yang mampu memproduksi induk unggul udang vaname dengan kapasitas produksi sebanyak 140 ribu ekor induk dalam 1 tahun.

“Jumlah ini masih sangat jauh dari kebutuhan yang diminta, sehingga sisanya masih harus dipenuhi dengan cara mendatangkan induk dari pihak swasta, dukungan dari perusahaan swasta yang memproduksi induk unggul udang vaname terus kita dorong,”  kata Tebe.

Dikatakan, melalui dukungan dan peranan swasta tentunya pemerintah dalam hal ini Unit Pelaksana Teknis (UPT) DJPB yang bertugas memproduksi naupli udang berkualitas seperti BBPBAP Jepara, BPBAP Situbondo, BPBAP Takalar dan BPBAP Ujung Batee Aceh akan sangat terbantu dalam memenuhi permintaan naupli udang berkualitas pada panti-panti benih/ HSRT milik masyarakat di sentra-sentra produksi budidaya udang. Seperti halnya BBPBAP Jepara telah bersertifikat ISO 9001:2015 dan CPIB, dengan potensi kapasitas produksi per tahun naupli udang sekitar 1 miliar.

Data sebaran naupli udang selama tahun 2021 yakni di Jawa Tengah sendiri HSRT masyarakat yang berada di lokasi Jepara, Tegal, Rembang dan Pati. Sementara Jawa Timur tersebar ke HSRT yang berada di lokasi Tuban dan Lamongan. Dan di Jawa Barat tersebar untuk HSRT di Cirebon.

Octo Rachnalim, Komisioner PT Bibit Unggul saat ditinjau lokasinya (19/12), menyampaikan pihaknya siap mendukung Indonesia dalam memproduksi udang sebesar 2 juta ton pada tahun 2024 melalui penyediaan induk udang unggul SPF. “Saya yakin UPT DJPB bisa, dengan fasilitas PCR yang dimiliki, kerja tim, manajemen pengelolaan induk udang yang baik, tentunya naupli udang berkualitas dapat diproduksi secara berkelanjutan,” kata Octo.

Sementara, Plt. Kepala Balai Produksi Induk Udang Unggul Dan Kekerangan (BPIUUK) Karangasem, I Gusti Putu Agung saat dimintai keterangan menyampaikan BPIUUK Karangasem telah melakukan kegiatan pemuliaan untuk mendapatkan galur benih dan calon induk yang cepat tumbuh dan tahan cekaman, berdasarkan seleksi individu dan seleksi famili. Kegiatan tersebut dengan menerapkan prinsip-prinsip biosecurity guna mencegah masuknya virus atau penyakit dari luar.

BPIUUK Karangasem juga dilengkapi dengan laboratorium uji yang telah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional dan telah sesuai dengan mutu pengujian ISO 17025 dan juga telah menerapkan prinsip-prinsip pembenihan ikan yang baik (CPIB), cara karantina ikan yang baik (CKIB) dan telah mendapatkan sertifikat CPIB dan CKIB dari badan karantina, sehingga produk yang dihasilkan tidak cacat dan bebas virus TSV, HSSV, IHHNV, IMNV, EMS/AHPND dan EHP.

“Dengan kondisi induk yang berkualitas dan produksi benih yang telah dicapai, BPIUUK Karangasem sangat yakin dapat menghasilkan benih berkualitas berkelanjutan didukung dengan kapasitas produksi benih kita yang mencapai 50 juta benih/tahun. Oleh karena itu kita sangat optimis dapat memproduksi benih yang akan digunakan sebagai benih berkualitas untuk mendukung agar program peningkatan produksi 2 juta ton udang di tahun 2024 tercapai,” papar  Agung. (dar)

Sumber Foto. Dok: Humas Ditjen Perikanan Budidaya