Indoagribiz.com. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Diarmita menyampaikan bahwa adanya penurunan populasi ayam petelur saat ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam pengendalian untuk menjaga stabilitas harga telur di tingkat peternak.

“Saat ini populasi ayam memang menurun, karena kebijakan kami untuk menurunkan populasi di Blitar yang sebelumnya mengalami over supply, dengan harapan harga telur di tingkat peternak stabil,” kata I Ketut Diarmita, sebagaimana dikutip laman resmi Kementerian Pertanian, Sabtu (26/8).

I Ketut Diarmita menceritakan, kebijakan yang dilakukan pemerintah tersebut muncul karena sebelumnya ada keluhan dari peternak tentang penurunan harga ayam hidup (broiler dan jantan layer), serta telur ayam dibawah harga pokok produksi, bahkan sebelumnya harga telur juga sempat mencapai Rp. 14.000.

“Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Ditjen PKH telah melakukan peninjauan langsung ke kandang dan menemui para peternak di Kabupaten Blitar,” tutur I Ketut Diarmita.

Kebijakan dari aspek hulu yang telah dilakukan oleh pemerintah melalui Ditjen PKH Kementerian Pertanian, terutama untuk menstabilkan harga telur dan ayam, yaitu dengan melakukan pengaturan keseimbangan supply dan demand melalui penyesuaian jumlah final stock sesuai dengan penerapan Kepmentan 3035/2017 agar tidak terjadi over supplay setelah dilakukan pendataan dan penghitungan pasokan dan kebutuhan.

Selain itu, untuk mendukung kelancaran pengendalian populasi tersebut juga dilakukan pemantauan dan monitoring secara berkelanjutan. “Berdasarkan pantauan dari Pengamat Informasi Pasar (PIP) Ditjen PKH, setelah diterapkannya kebijakan pengendalian populasi ayam tersebut, harga telur ayam terus mengalami peningkatan,” ujarnya.

Harga telur di Blitar saat ini Rp16.000 – 16.500 (stabil), di Yogyakarta Rp 17.000, Jabodetabek Rp 18.000, sedangkan harga apcuan yang telah ditetapkan oleh Menteri Perdagangan adalah Rp 18.000. Bahkan pada periode tanggal 12 Juli sampai tanggal 21 Juli 2017 sudah pernah melewati harga acuan di tingkat pembelian yang ditetapkan pemerintah.

“Kami ikut bahagia, karena pada periode tersebut harga telur di tingkat peternak di Blitar mencapai Rp 19.500,-/kg sudah mencapai titik tertinggi dibandingkan periode sebelumnya,” tutur I Ketut Diarmita.

Singgih selaku Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR Indonesia) mengatakan, dengan adanya kebijakan dari Kementerian Pertanian tersebut, terutama afkir 70 mingggu, maka populasi ayam layer mengalami penurunan, sehingga membuat harga telur di tingkat peternak naik. Kalau populasi tidak turun, maka harga akan jatuh di bawah HPP,” ungkap Singgih.

“Saat ini yang perlu diperhatikan adalah harga, supaya harga telur stabil dan peternak rakyat tumbuh lagi. Untuk itu, kami berharap agar peternak besar yang mempunyai populasi ternaknya 300 ribu dan terintegrasi harus dibatasi kepemilikannya untuk keberlangsungan peternak kecil,” imbuh dia. (MOH)