Di Tengah Pandemi Covid 19, Permintaan Jamur Meningkat

Sleman (Indoagribiz)— Budidaya jamur yang dikembangkan  petani  memiliki peluang pasar cukup luas dan menjanjikan. Tren perubahan pola konsumsi masyarakat di era pandemi covid-19 juga berpengaruh terhadap melonjaknya permintaan komoditas jamur di pasar.

Jamur  saat ini menjadi salah satu pangan alternatif yang digemari masyarakat.  Tak heran, apabila restoran berbahan baku jamur kian “menjamur” di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Jogja dan Makassar. Bahkan, bahan baku jamur  banyak diolah menjadi berbagai varian masakan aneka jamur, keripik jamur, dan lain-lain.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) telah mengintruksikan kepada Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto agar komoditas Hortikultura digenjot habis-habisan, terutama yang berpotensi ekspor.

Dirjen Hortikultura  Kementan, Prihasto mengatakan,  tingkat konsumsi jamur Indonesia meningkat di tengah pandemi covid-19 ini. Bahkan, jamur memiliki potensi bisnis baru yang digemari anak-anak muda.

“Sekarang, banyak anak-anak muda yang melek dengan budidaya jamur. Ini permintaan pasar banyak, karena jamur itu mengandung unsur protein yang tinggi, jadi memang sangat pas menjadi menu konsumsi untuk meningkatkan asupan gizi ditengah pandemi ini,” kata Prihasto, dalam siaran persnya, di Jakarta, Jumat (25/6).

Peningkatan permintaan pasar komoditas hortikultura yang satu ini di masa pandemi (jamur.red) juga di aminkan oleh petani jamur milenial asal Bantul-Yogyakarta Listya Minarti. Lulusan Ilmu Biologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini mengaku jika akhir-akhir ini kewalahan menghadapi permintaan konsumen jamur.

” Permintaannya itu sampai 200 kg sehari, sementara saya hanya mampu nyiapin sekitar 90 kg, memang banyak banget permintaannya. Makanya saya berencana kedepannya nanti akan mengedukasi ibu-ibu rumah tangga untuk budidaya jamur di rumah yang bisa panen setiap saat. Semoga Kementan bisa membantu membangun rak jamur dari baja ringan,” katanya.

Senada dengan Dirjen Hortikultura, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Tommy Nugraha mengapresiasi petani muda yang melirik budidaya jamur. Mengingat, tren bisnis jamur ini akan semakin di gemari anak-anak milenial, apalagi potensi ekspornya cukup bagus.

“Pokoknya saya jempol dua kalau ada anak muda yang memilih budidaya jamur, ini baru namanya  out of the box, karena saya yakin sekali ini potensi pasarnya sangat bagus”, ujar Tommy.

Sementara itu, Ratijo pemilik restoran jamur dan agrowisata Je Jamuran yang berlokasi di Sleman-Yogyakarta, patut ditiru oleh anak muda. Dengan kiat suksesnya apapun yang dikerjakan dengan hati maka akan terasa nikmat, dan jika kita ingin sukses dalam bekerja, maka kita harus mencintai pekerjaan itu. Sama halnya dengan berwirausaha, apapun jenis usahanya kalau kita mencintai maka semua akan terasa nyaman dan bahagia.

Sebelum membangun rumah produksi dan restoran jamur, dulunya Ratijo seorang karyawan sebuah perusahaan pengelolaan jamur di Dieng-Jawa Tengah. Karena ingin usaha mandiri, pada tahun 90-an, Ratijo memberanikan diri untuk mundur dari tempat kerjanya dan merintis usaha jamur bersama istrinya.

” Awalnya memang berat, tapi saya berfikir bahwa jika kita menjadi karyawan terus, maka kita tidak bisa menikmati kehidupan yang lebih baik, apalagi membahagiakan banyak orang. Sejak saat itu saya memutuskan untuk membangun usaha ini, istri saya juga sangat mendukung, dan saya rasa dia ahlinya meracik bumbunya,” kata Ratijo.

Pemilik usaha Je Jamuran itu juga tak menampik jika di era 90-an saat ingin belajar budidaya jamur sangatlah sulit, karena akses transportasi dan informasi tidaklah semudah saat ini. “Kalau dulu saya itu pernah berkunjung ke salah satu tempat produksi, rencananya mau nambah ilmu, tapi ndak dibolehin liat caranya, yah hanya sekedar lihat tempatnya saja terus pulang, sejak itu saya berjanji jika nanti sukses saya ingin membagi semua ilmu budidaya jamur. Saya percaya, semakin banyak membagi ilmu maka semakin banyak rezeki,” pungkasnya. (ind)