Cegah imor beras perthankan LLT satu juta hektar.

INDOAGRIBIZ–Lembaga Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyatakan pemerintah harus mengupayakan pengendalian harga pangan dalam rangka mengentaskan fenomena stunting yang merebak di Tanah Air.

“Banyak orang yang tidak mampu menyediakan pangan bergizi dikarenakan harganya yang mahal. Hal ini berdampak pada ibu hamil, ibu menyusui dan anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan,” kata Kepala Penelitian CIPS Hizkia Respatiadi dalam rilis di Jakarta, Sabtu (6/1).

Padahal, Hizkia mengingatkan bahwa pemenuhan gizi pada 1.000 hari pertama bagi kehidupan anak sangat penting untuk masa depannya.

Sebagaimana diwartakan sejumlah media, tingginya angka stunting masih menjadi salah satu momok menakutkan bagi anak Indonesia, serta menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah yang harus diselesaikan.

Stunting adalah kondisi dimana anak mengalami hambatan dalam pertumbuhan karena mengalami kurang gizi kronis. Kondisi ini biasanya berlangsung sejak anak berada di dalam kandungan.

Kondisi ini ditandai dengan tinggi badan anak yang kurang dari tinggi badan anak normal pada usianya, serta baru terlihat jelas setelah usia anak dua tahun, stunting dapat menurunkan tingkat kecerdasan dan produktivitas si anak.

Selain belum memasyarakatnya gaya hidup sehat dan kesadaran untuk menjaga kesehatan, ketidakmampuan masyarakat untuk mengonsumsi makanan bergizi karena mahalnya harga pangan juga menjadi penyebab masih tingginya angka stunting di Tanah Air.

Berdasarkan data dari Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Moeloek yang disampaikan dalam Rapat Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan tentang stunting pada pertengahan tahun 2017 lalu, sebanyak 9 juta anak Indonesia atau 37,2 persen menderita stunting.

Sedangkan menurut data dari Bank Dunia, Indonesia berada di posisi kelima dunia dalam jumlah anak dengan kondisi stunting. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), 178 juta anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia pertumbuhannya terhambat karena stunting.

“Permasalahan kurang gizi tidak sesederhana sebagaimana yang terlihat dari luarnya. Permasalahan gizi, kalau tidak segera ditindaklanjuti, bisa menuntun bangsa ini menuju kondisi yang tidak menguntungkan,” ucap dia.

Untuk itu, ia menyatakan bahwa ketersediaan pangan adalah kunci dari terjangkaunya harga pangan itu sendiri. Namun pada kenyataannya, tidak semua komoditas pangan yang dihasilkan petani bisa memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.

Hizkia berpendapat bahwa hal tersebut karena adanya penerapan berbagai kebijakan yang menghambat terjadinya mekanisme pasar dan pembatasan impor yang berlebihan adalah penyebab tingginya harga pangan.”Pemerintah perlu merumuskan kebijakan yang lebih efektif terkait ketersediaan pangan dan harganya yang terjangkau. Kalau pangan tersedia dan harganya terjangkau, masyarakat bisa memenuhi kebutuhan gizi anggota keluarganya dengan tidak menghabiskan hampir semua penghasilannya,” pungkas dia. [moh]