Peternakan sapi (foto ilustrasi)

Indoagribiz.com. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) mengerahkan tim ke Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Gorontalo guna mencegah dan mengendalikan penyakit Anthrax pada ternak sapi.

Kepala Balai Besar Veteriner Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Drh. Sulaxono, menyampaikan, tim telah melakukan isolasi terhadap sapi yang berada di daerah tersebut agar tidak dibawa keluar dari desa tertular setelah ada laporan tiga ekor sapi yang mati di kabupaten tersebut.

“Tindakan yang telah dilakukan di antaranya melakukan isolasi terhadap sapi yang berada di daerah tersebut agar tidak digembalakan dan dibawa keluar dari desa tertular,” kata Sulaxono melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (1/9).

Berdasarkan laporan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros, kasus penyakit anthrax di Sulawesi Selatan terjadi di Dusun Moncongjai, Desa Rompegading, Kecamatan Cenrana. Sapi yang mati di lokasi tersebut hanya 3 ekor yaitu 1 ekor terjadi pada tanggal 8 Agustus 2017, 1 ekor pada tanggal 11 Agustus dan 1 ekor sapi pada tanggal 21 Agustus 2017.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros beserta pihak Kepolisian telah melakukan investigasi ke lapangan untuk mengetahui penyebab kematian ternak sapi dan melakukan pengambilan sampel potongan telinga ternak yang mati. Dari sampel potongan telinga sapi yang mati tersebut selanjutnya dilakukan pengujian di Laboratorium Bakteriologi Balai Besar Veteriner Maros.

Sulaxono menjelaskan, berdasarkan hasil pengujian sampel tersebut pada 23 Agustus lalu, telah teridentifikasi dan diyakini adanya kuman “bacillus anthracis” yang merupakan kuman penyebab penyakit anthrax.

Balai Besar Veteriner Maros bersama dengan Dinas PKH Provinsi Sulawesi Selatan dan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan Kabupaten Maros langsung melakukan gerak cepat mengerahkan tim ke lapangan untuk melakukan tindakan pencegahan dan pengendalian penyebaran penyakit antrhax.

Selain melakukan isolasi ternak, tim melakukan pengobatan dan melaksanakan vaksinasi anthrax, penyemprotan desinfektan pada tanah yang tercemar, penguburan dan pembakaran terhadap bangkai sapi, sosialisasi “public awareness” kepada masyarakat melalui TV, media cetak dan radio.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sulawesi Selatan telah memberikan bantuan vaksin dan obat-obatan kepada masyarakat berupa vaksin anthrax sebanyak 2.000 dosis, injectamin 10 botol, antibiotik sebanyak 14 botol, desinfektan 7 liter, obat cacing 2 pot dan formalin 5 liter.

“Vaksinasi massal juga telah dilakukan terhadap 300 ekor sapi dan pengobatan juga telah diberikan terhadap 118 ekor sapi,” ungkap Sulaxono. (MOH)