Seminar nasional tentang Indonesia menuju lumbung pangan dunia 2045 yang diselenggarakan Majalah Agrina di Jakarta.

INDOAGRIBIZ–Menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045 merupakan sebuah obsesi pemerintah Indonesia. Untuk itu, program dan terobosan untuk mencapai itu terus dilakukan oleh Kementerian Pertanian.

Namun pakar pertanian yang juga mantan Menteri Pertanian era Presiden Megawati Soekarnoputri, Bungaran Saragih, mengingatkan agar obsesi menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045 jangan hanya sekadar angan-angan. Sebab jika tidak hati-hati dalam penerapan dan kebijakannya, maka dipastikan tidak akan tercapai.

“Kalau tidak hati-hati maka menjadikan lumbung jadi hanya sekadar angan-angan semata. Pemerintah harus serius dan fokus menjalankan dan menggolkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045,” ujar Bungaran Saragih pada acara seminar nasional Kedaulatan Pangan Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045, yang diselenggarakan oleh Majalah Agrina, di Jakarta, pada Rabu (28/3/18).

Menurut Bungaran, keseriusan itu belum terlihat dari cara rumusan lumbung pangan dunia yang dimaksud itu seperti apa. Ia malah melihat seolah untuk mencapai lumbung pangan hanya peran pemerintah dan petani kecil saja, tapi tidak melibatkan para pengusaha dan koperasi pertanian. “Kalau tidak ada kerjasama dengan pengusaha, saya pastikan tidak akan mampu. Jadi, harus sinergis bermitra antara pengusaha, petani kecil dan pemerintah,” jelasnya.

Ia mencontohkan hasil kerjasama antara pengusaha, petani dan pemerintah yang telah melahirkan tiga revolusi yang sukses yang pernah dilakukan Indonesia sejak 1945. Pertama, green revolution, sehingga mampu surplus dan swasembada beras. Kedua, gebrakan para pengusaha agribisnis tentang usaha ayam broiler dan layer sehingga mampu swassembada ayam dan telur dan ketiga keberhasilan perkebunan sawit.

“Tiga kali sukses yang pernah diraih Indonesia itu karena hasil kerjasama antara pengusaha, petani kecil dan pemerintah. Dulu pada akhir tahun 1970-an pemerintah pernah mengembangkan ayam, tetapi tidak melibatkan pengusaha, maka tidak pernah berhasil, tapi setelah ditangani oleh swasta baru berhasil,” terangnya.

Sementara itu Kepala Bagian Perencanaan Wilayah Kementerian Pertanian, Made Ngakan Cakrabawa mengungkapkan, salah satu program dan prioritas yang dilakukan Kementerian Pertanian untuk mencapai lumbung pangan dunia pada 2045 adalah melakukan peningkatan produksi dengan cetak sawah. Sesuai Nawa Cita maka Pemerintah menargetkan cetak sawah seluas 1 juta hektar.

“Untuk cetak sawah pemerintah akan mengembangkannya di Merauke, Papua. Di sana memiliki potensi lahan yang cukup luas. Dari target 1 juta hektar ini, sampai saat ini sekitar 250 ribu hektar sudah terealisasi,” ujar Made Ngakan.

Saat ditanya apakah 1 juta hektar akan tercapai hingga tahun 2019, Made tidak bisa memastikan. Pasalnya, banyak kendala dalam program cetak sawah, antara lain, pembebasan lahan. Misalnya, ada lahan yang bisa dibebaskan tapi unsur haranya tidak memenuh kriteria. Sebaliknya ada yang memenuhi kriteria unsur haranya tetapi milik hutan lindung atau milik PT. Perhutani. “Nah, kendala seperti ini kadang sering ada di lapangan,” tambahnya.

Namun demikian, sasaran target lain dari pengembangan lahan guna mendukung lumbung pangan ini, Kementan juga membidik lahan rawa kering dan tadah hujan, yang potensinya diperkirakan mencapai 33 juta hektar. Jika saja dari angka tersebut, ada sekitar 10 juta hektar yang bisa difungsikan maka dapat menutupi dan mensubstitusi fungsi alih lahan yang selama ini terjadi.

“Untuk contoh lahan rawa yang telah sukses sudah ada di Sumatra Selatan. Di lahan rawa itu yang biasa hanya satu kali panen dalam setahun kini bisa tiga kali dengan hasi panen antara 3 sampai 4 ton per hektar. Nah, ini bisa jadi contoh pemanfaatan lahan- lahan rawa. Memang di sini kita harus mendorong teknologinya karena butuh tknologi tinggi,” ujar Made Ngakan.

Kementan menyebut, selain padi, target lumbung pangan dunia 2045 juga untuk jagung, kedelai, bawang merah, gula, daging sapi, cabai, dan bawang putih. Swasembada padi telah dicapai pada 2016 lalu dan 2045 yang akan datang ditargetkan produksinya mencapai 100,03 juta ton atau setara 61,06 juta ton beras dengan luas tanam 17,83 juta ha dan produktivitas 5,90 ton/ha. Diharapkan kita dapat menguasai 20 persen pangsa pasar beras dunia.

Jagung ditargetkan mencapai swasembada 2017, dan pada tahun 2045 ditargetkan produksi 63,16 juta ton dengan ekspor sebesar 1,20 juta ton atau menjadi eksportir ke-7 dunia. Kedelai ditargetkan swasembada tahun 2020 dan pada tahun 2045 ditargetkan produksi sebesar 7,7 juta ton dengan ekspor sebesar 2,9 juta ton. Bawang putih target  swasembada 2033 dimajukan menjadi 2019.

Gula konsumsi ditargetkan swasembada pada 2019 dan gula industri tahun 2025 dan tahun 2045 ditargetkan sudah menjadi eksportir utama gula di kawasan ASEAN. Dan daging sapi ditargetkan swasembada tahun 2026 dan mampu memproduksi 1,12 juta ton daging sapi dan menjadi salah satu negara pengekspor utama di kawasan ASEAN. [nss]