Budidaya Sistem Bioflok, Lebih Menguntungkan

Jakarta (Indoagribiz)—Subsektor perikanan budidaya menjadi salah satu fokus  pengembangan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Subsektor perikanan budidaya ini diharapkan dapat memicu pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga ketahanan pangan di masyarakat.

Melalui paket bantuan budidaya ikan sistem bioflok yang diperkenalkan kepada masyarakat, diharapkan menjadi salah satu solusi dalam menghadapi tantangan pertumbuhan ekonomi dan ketahanan pangan ke depan.

Salah satu penerima paket bantuan budidaya sistem bioflok adalah Koperasi Serba Usaha (KSU) Central Lele pada tahun 2020, dari Desa Panji Lor, Kabupaten Situbondo. Ahmad Basri selaku Ketua KSU Central Lele, mulai menjalankan usaha budidaya lele sejak tahun 2010 dan merasakan manfaat yang berlipat dari usaha budidaya ikan sistem bioflok yang kini ditekuninya.

“Budidaya Iele sistem bioflok ini merupakan teknologi yang baru bagi anggota kelompok kami, sehingga wajar apabila timbul beberapa kendala pada siklus penebaran pertama seperti masalah kualitas air hingga pertumbuhan ikan yang lambat. Namun seiring berjalan waktu dan bimbingan dari tim Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo, kami telah berhasil mengatasi kendala-kendala tersebut,” kata Basri, dalam siaran persnya, di Jakarta, Selasa (13/7).

Menurut Basri, kelompoknya mendapatkan bantuan berupa 8 unit kolam bulat berdiameter 3 meter, 24 ribu ekor benih Ikan Lele, pakan dan obat ikan, sistem aerasi, serta sarana penunjang operasional lainnya. Dari bantuan tersebut, total hasil panen perdana yang dihasilkan di KSU Central Lele mencapai 2 ton dengan nilai ekonomi yang diraup mencapai  Rp 26 juta.

“Setelah panen siklus pertama selesai, kami melanjutkan untuk usaha siklus kedua dengan menebar benih lele sebanyak 20 ribu ekor dan telah berhasil panen parsial pertama sebanyak 384 kg. Dari penebaran kedua ini kami menargetkan untuk dapat menghasilkan 1,8 ton Ikan Lele bernilai jual mencapai Rp 29,7 juta dengan asumsi harga jual Rp 16.500 per kg,” kata Basri.

Basri optimis dengan pengalaman dan modal yang telah didapatkan melalui bantuan pemerintah ini kelompoknya akan dapat mengembangkan usaha menjadi lebih besar. Apalagi menurut perhitungannya sistem bioflok ini menghasilkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan metode konvensional karena lebih irit dalam penggunaan air serta pakan. Basri juga berencana menambah jumlah kolam bioflok dan meningkatkan padat tebar secara berkala agar keuntungan yang didapatkan oleh anggota kelompoknya dapat terus meningkat.

“Harapan kami agar pemerintah dapat terus hadir bagi masyarakat melalui berbagai program bantuan, sosialisasi maupun penyuluhan sehingga bantuan yang diberikan dapat dimanfaatkan secara maksimal,” kata Basri.

Seperti diketahui,  pada tahun 2020 BPBAP Situbondo menyalurkan paket bantuan budidaya ikan sistem bioflok kepada 7 Pokdakan di Provinsi Jawa Timur dengan total nilai bantuan sebesar Rp 1,12 miliar. Pada tahun 2021, BPBAP Situbondo kembali akan menyalurkan 12 paket bantuan kepada sejumlah Pokdakan di Provinsi Jawa Timur.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, TB Haeru Rahayu yang biasa disapa Tebe mengatakan, komoditas ikan air tawar seperti lele memiliki potensi keberlanjutan usaha yang tinggi karena pangsa pasar yang baik di dalam negeri, sehingga tidak pernah kekurangan peminat.

“Paket bantuan budidaya ikan sistem bioflok merupakan program prioritas dari KKP yang diharapkan dapat menjadi salah satu pengungkit ekonomi masyarakat khususnya pembudidaya. Selain memastikan produksi terus berjalan, hasil produk perikanan yang dihasilkan menjadi sumber protein bergizi tinggi dengan harga terjangkau yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk meningkatkan imunitas tubuh khususnya di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang,” papar Tebe.

Menurut Tebe, diperlukan manajemen usaha yang baik agar usaha yang dijalankan dapat berkesinambungan dan kapasitas usaha dapat berkembang menjadi lebih besar di masa mendatang.

“ Kami harapkan dengan berkembangnya usaha dapat memberikan efek yang baik kepada lingkungan sekitarnya bahkan hingga dapat mengembangkan suatu wilayah menjadi pusat ekonomi baru berbasis perikanan budidaya atau menjadi sebuah kampung perikanan budidaya berbasis kearifan lokal yang merupakan salah satu progam prioritas KKP sebagaimana digaungkan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono,” pungkas Tebe. (ind)