Budidaya Lele Bioflok, Penopang Pendapatan Masyarakat Palangkaraya

Palangkaraya (Indoagribiz). Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya menggencarkan usaha budidaya sebagai terobosan dalam meningkatkan perekonomian masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Salah satu usaha budidaya yang kini dikembangkan berupa, budidaya lele sistem bioflok.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto mengatakan, sentuhan teknologi budidaya ikan sistem bioflok yang dilakukan KKP terbukti mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan pembudidaya ikan dibandingkan dengan teknologi budidaya konvensional seperti yang dilakukan oleh sebagian besar pembudidaya ikan di Palangkaraya.

Menurut Slamet, pada awalnya kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Katoni Lestari Jaya Raya, Palangkaraya berbudidaya ikan secara konvensional di lahan yang luas dan produktivitasnya rendah serta sering terkena banjir. Sekarang ini dengan adanya teknologi bioflok, yakni suatu inovasi teknologi, dengan lahan yang tidak begitu luas mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan yang signifikan.

“ Apalagi, Palangkaraya airnya masih sangat bagus, jernih, makanya sangat cocok dan potensial untuk budidaya ikan termasuk ikan lele atau komoditas ikan lainnya. Sehingga melalui sub sektor perikanan ini diharapkan mampu menggerakkan ekonomi Palangkaraya, meski masih dibayangi pandemi Covid-19 seperti sekarang,” kata  Slamet, saat melakukan kunjungan kerja di Palangkaraya, Senin (22/3).

Slamet mengatakan, semua berharap pandemi Covid-19 segera berlalu agar ekonomi bisa pulih dan normal kembali. Harapan besar juga pada sektor kelautan dan perikanan khususnya perikanan budidaya bisa menjadi mesin ekonomi baru yang mampu memberikan dampak positif terhadap peningkatan ekonomi.

Menurut Slamet, selaras dengan apa yang disampaikan Presiden Joko Widodo, dalam keadaan pandemi ini, pemerintah harus terus mengupayakan agar ekonomi bisa bangkit. “Kita berharap pandemi Covid-19 ini bisa segera berlalu dan kita bisa bekerja dengan normal, sehingga ekonomi bisa tumbuh,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Kepala DinasKelautan dan Perikanan Provinsi Kalimatan Tengah, Produk Domestik Bruto (PDB) sub sektor perikanan di Kalteng ini positif di tengah pandemic. Artinya,  Indonesia dengan kegiatan pertanian dan perikanan menjadi kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan, menjadi kehidupan sehari-hari sebagai penopang ekonomi nasional.

“Meski dalam kondisi seperti sekarang, kita masih harus bersyukur sektor ekonomi di Kalteng masih tumbuh positif. Ditambah lagi, harga lele disini cukup bagus, dan ternyata bisa sampai harga Rp 18-20 ribu per kg,” papar Slamet.

Lebih lanjut, Slamet juga mengatakan, di KKP  ada program gemar makan ikan (Gemarikan), sehingga jangan khawatir perikanan khusus perikanan budidaya ini hasilnya tidak akan terserap baik untuk saat ini maupun nanti setelah normal. Permintaan ikan masih terus naik, karena makan ikan mampu meningkatkan imunitas.

“Sektor perikanan memang digadang-gadang menjadi penopang ekonomi, dan ketahanan pangan. Ditambah lagi makan ikan sehat, makanya jangan takut kalau hasil produksi perikanan tidak terserap,” katanya.

Dikatakan, KKP terus memberikan stimulus, salah satunya berupa bantuan sarana dan prasarana untuk masyarakat agar bisa berbudidaya lele sistem bioflok. Pokdakan yang sudah mendapatkan bantuan harus bersyukur bisa mendapatkan bantuan sarana dan prasarana dan kami harap ini bisa dimanfaatkan, dioperasionalkan dan dirawat dengan baik sehingga bermanfaat.

Program budidaya ikan sistem bioflok merupakan salah satu program prioritas KKP yang akan terus dimasyarakatkan karena berbagai keunggulannya. Kegiatan budidaya sistem bioflok, merupakan suatu inovasi teknologi yang dilakukan melalui rekayasa lingkungan dengan mengandalkan suplai oksigen dan pemanfaatan mikroorganisme.

“ Keterbatasan lahan dan air serta di tengah pandemi Covid-19 ini, ikan menjadi ketahanan pangan nasional bergizi sehingga kebutuhan kian meningkat untuk konsumsi, dan budidaya lele sistem bioflok ini merupakan salah satu alternatif usaha. Disamping itu, penggunaan pakannya lebih efisien,” kata Slamet.

Slamet  juga berharap, penguasaan teknologi budidaya bioflok ini bisa dirasakan dan meluas ke berbagai pelosok daerah. KKP juga mendorong Unit Pelaksana Teknis (UPT) DJPB untuk melakukan penyebaran teknologi bioflok. Selain itu agar pembudidaya terus mendukung program-program pemerintah melalui penerapan CBIB (Cara Budidaya Ikan yang Baik) dan CPIB (Cara Pembenihan Ikan yang Baik).

“Kedepan ini menjadi syarat mutlak untuk meningkatkan daya saing produk di pasar global. Sehingga teknologi bioflok juga akan terasa keuntungannya jika pembudidaya mengikuti kaidah cara budidaya ikan yang baik. Oleh karenanya saya berpesan kepada para pembudidaya di seluruh Indonesia, agar SOP, standar operasional prosedur, seperti memberi pakan, mengelola airnya diperhatikan dengan baik sehingga hasilnya bisa lebih maksimal,” papar Slamet.

Selain program bantuan untuk sarana dan prasarana, KKP juga siap untuk memfasilitasi pinjaman modal melalui BLU LPMUKP yang memiliki bunga ringan sekitar 3%. Sehingga nantinya diharapkan bisa meningkatkan pendapatan kelompok anggota. “Bukan hanya bantuan sarana dan prasarana saja, KKP juga ada program prioritas pinjaman untuk pembudidaya dengan bunga ringan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BPBAT Mandiangin, Andy Artha Oktopura mengatakan, budidaya ikan sistem bioflok banyak menarik minat masyarakat karena berbagai keunggulan yang dimiliki seperti minim penggunaan lahan, produktivitas yang tinggi dan hemat air hingga ramah lingkungan. Berdasarkan hasil pengkajian dan uji terap di lapangan, budidaya ikan sistem bioflok ini memiliki tingkat produktivitas yang lebih tinggi karena pertumbuhan ikan yang lebih cepat dan tingkat kelulusan hidup yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan budidaya ikan secara konvensional.

“  Selain itu dari bantuan bioflok ini juga dapat dilihat adanya nilai tambah bagi masyarakat karena terintegrasi dengan sayuran dan tanaman cabai yang mampu tumbuh subur sehinga bisa menambah pendapatan pembudidaya ikan,” ujarnya.

Menurut Andy, BPBAT Mandiangin membuka peluang sebesar-besarnya kepada masyarakat yang ingin belajar dan bertukar pengalaman kepada tim teknis yang ada di BPBAT Mandiangin. “Kami siap untuk selalu hadir melaksanakan fungsi di masyarakat sebagai pusat pendampingan teknis dan pusat inovasi teknologi budidaya guna memajukan perikanan budidaya dan kesejahteraan masyarakat,” kata Andy.

Sedangkan, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalteng, Darliansjah mengatakan, kunjungan Dirjen Perikanan Budidaya menjadi semangat bagi kita semua untuk bersinergi dalam rangka membangun perikanan di Kalteng. Apalagi kunjungan ini sekaligus peluncuran dan penyaluran pinjaman atau pembiayaan BLU LPMUKP kepada pelaku usaha kelautan dan perikanan Kalteng sekitar 22 kelompok usaha dengan nilai Rp 6 miliar sehingga bisa menjadi penguatan modal dan peningkatan daya saing pelaku usaha perikanan di Kalteng.

“Harapan kami kepada pelaku usaha perikanan agar terus meningkatkan hasil produksinya, meningkatkan kemampuan teknis budidaya dan kalaupun ada apa-apa bisa dikonsultasikan kepada penyuluh. Karena, penyuluh selalu siap dekat dengan pelaku usaha perikanan dan siap terus mendampingi,” pungkasnya. (ind)