Budidaya Laut Jadi Prioritas Perikanan Budidaya

Jakarta (Indoagribiz). Budidaya laut bernilai ekonomi tinggi akan terus dioptimalkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB). Mengingat, hingga saat ini belum  banyak potensi budidaya laut yang dimanfaatkan masyarakat.

Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, budidaya laut menjadi prioritas kebijakan pembangunan perikanan budidaya nasional ke depan. Dalam kunjungannya bersama Komisi IV DPR RI, Slamet Soebjakto  juga menyerahkan bantuan 3 ribu benih abalon dari Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPIUUK) Karangasem dan 5 ribu benih kerapu cantang dari BPBAP Situbondo yang secara simbolis diberikan kepada pembudidaya di Serangan Denpasar,  Bali.

Menurut Slamet, kedatangannya ke Serangan Denpasar selain menyerahkan program bantuan, ada dua agenda utama yaitu meninjau budidaya koral yang dikelola oleh Kelompok Pembudidaya Karang Hias Nusantara (KPKHN).  Setelah melihat langsung, hasilnya cukup bagus yaitu dengan mengambil indukan karang, kemudian indukan karang tersebut dibudidayakan, dan nanti indukan tersebut akan dikembalikan ke alam, dan seterusnya seperti itu.  Kedua meninjau budidaya ikan kerapu, di daerah Serangan ini bisa diintegrasikan budidaya karang, tempat wisata dan juga wisata mangrovenya.

“Kami melihat di sini potensinya sangat luar biasa dan sudah dikelola dengan baik budidayanya seperti untuk ikan kerapunya. Hasilnya juga sangat bagus,” ujarnya, di Jakarta, Kamis (18/2).

Slamet mengatakan, seperti kelompok pembudidaya ikan Sarimerta Segara, bisa menghasilkan sekitar 600 kg untuk konsumsi lokal, kerapu cantang dengan waktu pemeliharaan 6 bulan. Berat kerapu yang dibudidaya rata-rata 6 ons per ekornya. Guna peningkatan produksinya ke depan, DJPB akan membantu keramba jaring apung (KJA).

Menurut  Slamet, KKP telah mengembangkan budidaya laut dengan menggunakan keramba jaring apung. Sedangkan, komoditas yang dikembangkan disesuiakn dengan potensi dan kondisi di setiap wilayah.

Slamet mencontohkan, budidaya laut yang dapat dikembangkan antara lain ikan kerapu dan abalon. Komoditas budidaya ikan laut tersebut merupakan komoditas ekspor dan pasarnya masih sangat terbuka lebar.

“Di sini kami melihat potensi perikanan budidaya lautnya sangat luar biasa. Untuk itu, ke depan akan kita optimalkan agar dapat memberikan banyak manfaat. Karena, ikan laut secara ekonomi sangat tinggi nilainya, dan pangsa pasarnya pun luas. Oleh karenanya, budidaya ikan laut jadi prioritas ke depan,” kata Slamet.

Budidaya laut pun memiliki peran yang sangat strategis di tengah masyarakat diantaranya sebagai penyedia lapangan pekerjaan, peningkat kesejahteraan, penjaga ketahanan pangan serta peluang pasar cukup besar baik di pasar lokal maupun sebagai elemen peningkatan nilai ekspor di tengah pandemi ini. Diharapkan, usaha budidaya laut yang dilakukan dapat berkelanjutan bukan hanya dari aspek lingkungan, namun juga dapat berkelanjutan dan mandiri pada usahanya.

“ Untuk memastikan keberlanjutan tersebut, beberapa poin penting yang harus diperhatikan oleh pelaku usaha budidaya seperti daya dukung lingkungan, pembangunan model kawasan, optimalisasi sarana dan prasarana, serta keterlibatan seluruh stakeholder dan masyarakat sekitar harus terus ditingkatkan guna kesejahteraan sosial dan ekonomi,” katanya.

Slamet juga mengatakan, keberadaan Unit Pelaksana Teknis (UPT) DJPB selain menjadi penyokong produksi perikanan budidaya, UPT DJPB juga diharapkan menjadi inkubator bisnis sekaligus menjadi penggerak ekonomi di wilayahnya . Selain itu UPT DJPB juga harus menjadi pusat layanan dan penyebaran teknologi di daerah serta dapat selalu hadir di saat masyarakat memerlukan solusi sebagai bukti kehadiran pemerintah di tengah masyarakat.

“Selama memberikan manfaat kami pemerintah pusat dibantu dengan UPT kami di daerah akan terus hadir untuk masyarakat. Baik dari sisi bantuan maupun pendampingan teknologi,” tutur Slamet.

Seperti halnya, BPIUUK Karangasem yang telah berhasil dalam melakukan pengembangan inovasi teknologi budidaya untuk meningkatkan produksi abalon baik dalam teknik pembenihan dan pengembangan teknologi budidaya abalon. Pengembangan budidaya abalon masih sangat potensial dilakukan di Indonesia. Budidaya abalon selain dapat memberikan tambahan penghasilan bagi masyakarat juga memberikan dampak positif secara ekologi, dengan budidaya tidak terjadi lagi eksploitasi sumber daya abalon di alam.

Selain BPIUUK Karangasem, BPBAP Situbondo telah lama mengembangkan teknologi budidaya ikan kerapu. Salah satunya adalah melakukan persilangan dengan produk berupa kerapu hibrid. Ikan kerapu cantang merupakan salah satu produk hibridisasi. Kerapu cantang merupakan hasil persilangan antara induk kerapu macan betina dengan induk kerapu kertang jantan.

Kerapu cantang memiliki beberapa keunggulan, selain nilai ekonomisnya yang tinggi, kerapu cantang memiliki laju pertumbuhan yg lebih tinggi dibandingkan kerapu jenis lain, yakni sekitar 500-600 gram dalam waktu 6 bulan dari ukuran tebar 10 cm di Keramba Jaring Apung. “Oleh karenanya, apa yang sudah kami temukan akan kami transformasikan ke masyarakat agar apa yang sudah kami temukan bisa memberikan nilai lebih bagi masyarakat,” kata  Slamet.

Budidaya Masa Depan

Ditempat yang sama, Ketua Komisi IV DPR RI, Sudin mengatakan, perikanan budidaya adalah masa depan perikanan kita. Artinya, dengan  budidaya yang  tidak merusak alam dan bisa dikembangkan.

“Jangan rusak alamnya, kalau bukan kita siapa lagi yang menjaga alam ini. Makanya budidaya sangat baik untuk menjaga kelestarian alam kita. Untuk itu, harus kita jaga dengan budidaya dan jangan buang sampah ke laut,” kata Sudin.

Sudin juga meminta KKP agar pembudidaya terus dibantu, seperti memberikan keramba jaring apung supaya pembudidaya ke depannya bisa lebih mandiri. “Melalui bantuan yang diberikan, saya berharap dapat bermanfaat bagi pembudidaya supaya masyarakat punya mata pencaharian sehingga kesejahteraan meningkat,” ujar Sudin.

Sementara itu, Kepala BPIUUK Karangasem, Winarno mengatakan, untuk mensukseskan program pemerintah, BPIUUK Karangasem siap mendukung dari sisi inovasi teknologinya, pengembangan komoditas udang dan kekerangan dan pendampingan teknologinya. Pihaknya terus berinovasi dalam pengembangan budidaya abalon dari penyiapan induk unggul dan benih bermutu dan kami ingin teknologinya benar benar dapat diaplikasikan di masyarakat pembudidaya.

Menurut Winarno, pengembangan budidaya abalon perlu diperhatikan kelayakan lokasi untuk budidayanya berdasarkan kondisi fisik perairan, kondisi kimia dan akses ke lokasi budidaya. Perairan terlindungi dan aman untuk membangun kontruksi budidaya, kemudian aksesibilitas juga perlu diperhatikan seperti lokasi budidaya mudah dijangkau dan keamanan terjamin.

Pastinya, untuk budidaya abalone , perairan harus bebas dari pencemaran, buangan industri, limbah pertanian ataupun limbah rumah tangga.“Program bantuan 3 ribu benih abalon ini diharapkan kelompok pembudidaya ikan Sarimerta Segara dapat melakukan usaha pengembangan budidaya abalon berkelanjutan dan menjadi pendapatan baru bagi kelompok,” kata Winarno.

Sementara itu, Ketua kelompok pembudidaya ikan Sarimerta Segara, I Made Jijir mengatakan, terima kasih kepada KKP atas bantuan benih kerapu cantang dan abalon yang diberikan. “Semoga kami dapat mengembangkan budidaya ikan kerapu dan abalon secara berkelanjutan dan mandiri,” ujar I Made Jijir.

Dikatakan, usaha budidaya kerapu cantang yang sudah dijalankan, kemarin panen kerapu cantang kurang lebih sekitar 600 kg diperoleh sekitar Rp 42.000.000. Sementara pasarnya saat ini hanya bisa memenuhi restoran restoran di kota Denpasar.

“Hasilnya sangat menjanjikan, ini saja baru untuk Denpasar karena produksinya baru cukup untuk lokal. Harapannya ke depan dengan adanya bantuan ini produksinya bisa lebih besar dan bisa untuk daerah lain. Syukur syukur bisa ekspor ,” pungkasnya. (ind)