Budidaya Ikan Dalam Ember, Murah Ramah Lingkungan

Jakarta (Indoagribiz).  Sempitnya lahan dan minimnya air tak lagi menjadi kendala masyarakat untuk budidaya ikan.  Melalui inovasi teknologi, masyarakat bisa melakukan budidaya dengan sistem bioflok. Selain sistem bioflok, masyarakat bisa melakukan budidaya ikan dalam ember (Budikdaber) yang  murah dan ramah lingkungan.

Aplikasi inovasi teknologi budidaya ikan dalam ember atau yang biasa disebut Budikdamber bisa menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan protein hewani bagi keluarga. Teknik budidaya yang mengadopsi sistem akuaponik ini juga menghasilkan sayuran untuk dikonsumsi.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, Budikdaber ini  sangat cocok diaplikasi masyarakat perkotaan dan kawasan yang minim air.  Masyarakat yang mengaplikasi Budikdaber, selain panen ikan juga panen sayuran, seperti kangkung.

Budikdamber merupakan teknik budidaya ikan ramah lingkungan yang memadukan antara budidaya ikan dan sayuran dengan menggunakan sarana ember sebagai wadah budidaya ikan. Budikdaber memanfaatkan air media budidaya untuk tumbuh kembang tanaman sayuran. Dengan memanfaatkan ember volume 80 liter, teknik Budikdamber ini dapat menghasilkan ikan lele sebanyak 3-5 Kg per ember.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin bekerjasama dengan Wanita Muslimat Nahdlatul Ulama Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel)  berhasil melakukan panen dari hasil Budikdamber sebanyak 135 kg ikan lele dan 43,75 kg sayuran kangkung dari total 35 ember produksi.

“ Budidaya ini sangat aplikatif. Kami menyambut baik bentuk kerjasama yang dilakukan dengan berbagai elemen masyarakat guna memacu produktifitas masyarakat terutama di masa pemulihan ekonomi seperti sekarang,” kata Slamet, dalam siaran persnya,  di Jakarta, Senin (22/2).

Slamet mengatakan,  teknologi budidaya Budikdamber sangat cocok untuk diadopsi oleh masyarakat, terutama di daerah perkotaan yang padat penduduk. Budikdaber tidak memerlukan lahan yang luas dan bisa dilakukan di lahan seperti pekarangan rumah.

“  Selain itu, dengan keunggulan tidak memerlukan banyak air, teknologi ini juga tepat untuk digunakan pada daerah yang kesulitan air,” ujar Slamet.

Menurut Slamet, keunggulan lain dari Budikdamber ini, bahan pembuatan untuk budidaya sangat sederhana.  Sehingga, sistem ini mudah untuk diterapkan di berbagai lokasi di seluruh Indonesia.

“ Oleh karena itu melalui program bantuan sarana prasarana produksi budidaya, pada akhir tahun 2020 KKP telah menyalurkan 665 paket bantuan sarana dan prasarana Budidkdamber senilai Rp 6,45 miliar kepada pembudidaya di seluruh Indonesia,” kata Slamet.

Slamet mengaku, teknologi yang sederhana ini juga dapat menjadi bahan pembelajaran bagi anggota keluarga maupun anggota kelompok masyarakat yang mengimplementasikan kegiatan Budidkdamber ini. Lantaran, sistemnya sederhana, Budikdamber dapat diimplementasikan oleh siapa saja mulai dari ibu rumah tangga hingga anak – anak remaja.

“ Hal ini menjadikan Budikdamber kegiatan yang cukup strategis untuk dapat mencetak calon wirausaha di masa mendatang,” ujarnya.

Pastinya,  Budikdamber ini juga memiliki peluang bisnis dan ekonomi yang menguntungkan bagi masyarakat. Ke depan, Budikdamber dapat menjadi salah satu elemen membangun perikanan budidaya nasional.

Sementara itu,  Kepala BPBAT Mandiangin, Andy Artha Donny Oktopura  mengatakan, kerjasama yang dijalin merupakan wujud kepedulian KKP terhadap masyarakat di masa pandemi. Selain bantuan sarana yang disalurkan, BPBAT Mandiangin juga memberikan pelatihan serta pendampingan kepada penerima hingga berhasil melakukan panen.

Menurur Andy, animo masyarakat yang begitu tinggi untuk melakukan kegiatan budidaya. Karena itu, budidaya yang bisa dilakukan di pekarangan rumah menjadi peluang baik untuk mengedukasi masyarakat. Melalui pengelolaan yang baik akan didapatkan budidaya yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

“ Apalagi air limbah dari budikdamber sangat baik untuk dimanfaatkan sebagai pupuk organik bagi tanaman khususnya sayuran,” ujar Andy.

Andy juga mengatajakan, pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan perikanan budidaya sejalan dengan amanat dari Menteri KKP untuk dapat menggerakan perekonomian masyarakat berbasis pada akuakultur.  Karena itu, BPBAT Mandiangin membuka pintu seluas-luasnya bagi berbagai elemen masyarakat yang ingin berkolaborasi untuk memajukan akuakultur berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat. (ind)