Menko Maritim Luhut Panjaitan didampingi Kepala BPPT saat meninjau lahan garam di Kupang, NTT.

INDOAGRIBIZ–Kelangkaan pasokan garam yang sempat melanda Indonesia baru-baru ini, membuat harga garam di sejumlah daerah melambung tinggi. Kebijakan impor pun terpaksa dilakukan guna memenuhi kebutuhan di dalam negeri.

Sejumlah cara terus dilakukan pemerintah untuk menghindarkan impor garam pada tahun mendatang, salah satunya oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang menghadirkan inovasi teknologi untuk meningkatkan produksi garam agar Indonesia mandiri dan mampu memenuhi kebutuhan garam nasional.

Kepala (BPPT) Unggul Priyanto mengatakan, teknologi rekayasa milik BPPT akan mampu menghentikan impor garam dalam waktu dekat. Menurutnya, BPPT telah mampu melakukan rekayasa teknologi untuk meningkatkan produksi garam. Rekayasa teknologi yang dimaksud yakni produksi garam harus bisa dilakukan setiap saat dan tanpa mengenal musim.

“Isu krisis garam nasional menjadi perhatian kami. Untuk meningkatkan produksi garam nasional dengan rekayasa teknologi ini memungkinkan untuk bisa dilakukan setiap saat, jadi produksi tak hanya dilakukan pada musim kemarau saja,” kata Unggul dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (1/11/17).

Curah hujan di sentra-sentra garam, seperti Pantai Utara Jawa (Pantura), Pulau Madura, dan sebagainya masih cukup tinggi. Dampaknya, panen garam terganggu dan kekurangan garam pun terjadi. Untuk mengatasi masalah pasokan garam, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyebut bahwa pemanfaatan teknologi harus dapat membantu petani meningkatkan produksi maupun kualitas garam.

Jika dari hasil inovasi teknologi garam BPPT yang diuji coba di Kupang, Nusa Tenggara Timur, hasil produksinya bagus, maka akan diaplikasikan juga di Madura dan sentra-sentra garam lainnya. “Kalau ada nanti langsung kita praktik, langsung kita bikin lahan garam satu di Kupang, kalau bagus langsung kita bikin lagi di Madura dan sebagainya,” ujar Luhut.

Pihaknya optimistis solusi teknologi BPPT bisa mengatasi masalah pasokan garam di Indonesia sehingga tidak perlu impor lagi, bukan hanya untuk jangka pendek tetapi juga jangka panjang. “Dengan begitu, biaya lebih rendah, tidak lagi terlalu berpengaruh dengan cuaca, produksi dapat kita angkat dan kita tidak impor lagi. Itu salah satu rekayasa dari BPPT,” ujar Luhut. [MOH]