Teriknya matahari, tidak menyurutkan semangat belasan perempuan petani garam mengolah lahan tambak garam mereka. Siang itu, mereka sedang besiru alias bergotong royong menggarap tambak garam seluas sekitar 8 hektar di Desa Bilelando, Praya Timur, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Secara bergantian, mulai dari pagi hingga sore hari, mereka mengolah lahan dari satu tambak ke tambak lainnya. Kegiatan besiru merupakan salah satu inisiatif Perkumpulan Panca Karsa dan-Koperasi Annisa yang mengangkat kembali kearifan lokal dalam upaya peningkatan kesejahteraan perempuan melalui melalui pengembangan usaha garam ramah lingkungan di Lombok Tengah dan Lombok Timur.

Manajer Lapangan Program, Baiq Halwati, mengatakan munculnya program ini terinspirasi dari rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi garam beryodium serta minimnya ketersediaan garam beryodium di NTB semakin menguatkan pentingnya program ini dijalankan. Sebagai zat gizi mikro, yodium sangat diperlukan tubuh untuk mengatur pertumbuhan dan perkembangan mulai dari janin sampai dewasa.“Ketersediaan garam beryodium di NTB memang masih kurang, dan kalau pun ada, kebanyakan  impor,” tutur Baiq Halwati.

Kondisi tersebut, menurut Baiq Halwati, sangat ironis mengingat banyak desa di Lombok Timur maupun Lombok Tengah selama ini terkenal sebagai daerah penghasil garam. Ini memicu Panca Karsa, berpikir menjadikan kedua kabupaten tersebut sebagai produsen garam yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Lombok dan sekitarnya, bahkan sampai keluar pulau Lombok. Mimpi yang lebih tinggi lagi ialah secara bertahap bisa  memproduksi garam sendiri sehingga dapat mengurangi ketergantungan impor garam dan mampu berswasembada garam. Semua itu, dapat dimulai dari NTB, khususnya Lombok. “Dari situlah, saya melihat program ini sangat strategis untuk dikembangkan,” ujar Baiq Halwati.

Program ini kemudian mendapat Hibah Pemnberdayaan Ekonomi Perempuan dari Millenneium Challenge Account-Indonesia (MCA-Indonesia), lembaga yang dibentuk Pemerintah Indonesia untuk mengelola dana Hibah Compact dari lembaga Pemerintah Amerika Serikat, Millenneium Challenge Corporation (MCC), yang bertujuan mengentaskan kemiskinan melalui pertumbuhan ekonomi.

Sebagai langkah awal, Baiq Halwati bersama timnya mengajak para perempuan petani garam untuk meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan cara bertani garam yang lebih modern. Misalnya, untuk menghasilkan kualitas garam yang baik, mereka diperkenalkan dengan sistem ulir pada tambak garam. Petugas teknis lapangan program, Muhamad Amin, mengatakan pada dasarnya sistem ulir merupakan cara mengelola aliran air laut yang lebih teratur dalam pemrosesan garam. Semakin airnya bergerak dan mengalir dengan baik, dari satu petak tambak ke petak tambak lainnya, unsur magnesium, logam, dan lain-lain yang tidak diperlukan akan terurai dan tersaring sampai akhirnya berkurang. Selama ini, para petani garam masih melakukannya secara tradisional. Mereka hanya menampung dan mendiamkan air laut terjemur panas matahari sampai akhirnya menjadi garam di satu  petak tambak. “Dengan pengelolaan yang masih tradisional seperti itu, kualitas garam yang dihasilkan masih tercampur dengan unsur zat besi dan lainnya sehingga tidak baik untuk dikonsumsi,” kata Muhammad Amin.

Manager Program Kasmiati mengatakan Panca Karsa Annisa menginisiasi pembentukan tiga koperasi di tiga kecamatan. Dua koperasi di Lombok Timur  yaitu Koperasi Industri Garam Mutiara Putih, Desa Ketapang Kecamatan Keruak dan Koperasi Industri Garam Dende Ringgit, Desa Pemongkong Kecamatan Jeruwaru. Sedangkan satu koperasi yaitu Koperasi Barokah Maju, didirikan di Desa Bilelando, Praya Tengah Lombok Tengah. Kini, ketiganya sudah aktif melakukan kegiatan seperti Koperasi Barokah Maju yang aktif melakukan pembelian garam mentah, iodisasi, pengemasan, pemasaran hingga penyaluran garam ke konsumen. Garam lokal yang dihasilkan sudah layak dikonsumsi karena telah mendapat sertifikat halal dari MUI dan sertifikasi hyginis dari Dina Kesehatan.

Sejalan dengan itu, pendekatan dan komunikasi kepada para petani garam intensif dilakukan. Sekali sebulan, pengelola program menggelar  pertemuan dengan para petani garam. Agenda yang dibahas dalam pertemuan sangat beragam, mulai  materi ketrampilan dan  pengetahuan bertani garam, manajemen pengelolaan koperasi, kepemimpinan dan motivasi, hingga pelatihan soal gender. Panca Karsa juga intensif membangun hubungan dan komunikasi dengan pemerintah daerah dan kelompok terkait. Perlahan tapi pasti, sejak dimulai Agustus 2016, program yang berlangsung di empat desa di Kabupaten Lombok Timur dan dua desa di Kabupaten Lombok Tengah ini menuai hasil yang positif. Kemajuannya, kata Baiq Halwati, cukup besar lantaran melebihi target yang telah ditentukan. Setelah delapan bulan berjalan, tercatat program yang berlangsung di Kabupaten Lombok Tengah sudah bisa menjadi produsen garam untuk seluruh PNS. Capaian tersebut diperoleh berkat dukungan Bupati Lombok Tengah Moh. Suhaili  yang melalui surat edarannya mewajibkan masyarakat Lombok Tengah mengkonsumsi garam beryodium hasil para perempuan petani garam binaan Panca Karsa. “Lima bulan setelah program dimulai, surat edaran Bupati Lombok Tengah terbit,” ujar Baiq Halwati.

Menurut Baiq Halwati, setelah Kabupaten Lombok Tengah, di luar kabupaten tempat proyek berlangsung,  target berikutnya adalah memenuhi kebutuhan garam beryodium di kabupaten yang tidak menghasilkan garam seperti Lombok Utara, Kota Mataram, dan Lombok Barat. Untuk itu, dirinya sedang berusaha membangun komunikasi dengan Gubernur NTB, Muhammad Zainul Majdi agar bisa menerbitkan surat edaran yang menjadikan Panca Karsa pemasok  garam beryodium di provinsi tersebut.

Program yang telah melibatkan hampir 500 perempuan petani garam ini juga telah berhasil meningkatkan pendapatan petani garam. Sebagai ilustrasi, kata Baiq Halwati, sebelum program berjalan, pendapatan petani garam hanya sekitar Rp 450 ribu sebulan. Namun, pada November 2016 atau tiga bulan setelah program berlangsung, pendapatan para petani garam meningkat berlipat ganda lantaran kualitas garam yang dihasilkan sudah jauh lebih baik sehingga harganya meningkat. Sebagai perbandingan, kalau dulu para petani menjual garam krosok (garam kasar) hanya Rp 340 per kilogram, sejak November 2016 harga jualnya meningkat menjadi Rp 650 per kilogramnya dan pada Maret 2017 naik lagi menjadi  Rp 800.  Kenaikan harga juga terjadi pada garam halus. Dari awalnya, hanya Rp 2.100 tiap kilogram, sekarang meningkat 47% menjadi Rp 3.100. “Dengan harga garam yang terus meningkat, penghasilan para petani garam sudah barang tentu juga akan bertambah,” turur Baiq Halwati.

Ina Sofian (33 tahun), salah seorang perempuan petani garam di Desa Bilelando, mengakui adanya peningkatan penghasilan sejak program yang difasilitasi MCA-Indonesia ini berjalan. Selain itu, pengetahuan dan wawasan ibu dua anak ini juga bertambah dengan materi seperti pengetahuan tentang kesetaraan gender, motivasi dan kepemimpinan, dan juga cara pengelolaan  koperasi. “Setiap pertemuan bulanan, kita dibekali dengan beragam pengetahuan. Sebelumnya tidak pernah ada program-program seperti ini. Saya benar-benar merasakan manfaatnya dan berharap program seperti ini tetap berlanjut,” kata Ina Sofyan.

Dalam acara Dialog Bersama Penerima Manfaat Hibah Compact, di Hotel Santika Lombok pertengahan  Mei lalu, Gubenur NTB Muhammad Zainul Majdi berjanji memastikan program-program yang didukung MCA-Indonesia di NTB akan tetap dilanjutkan. Gubenur NTB menegaskan MCA-Indonesia merupakan program kerja sama yang sangat baik karena formulasinya berdasarkan kepentingan serta kebutuhan masyarakat NTB. Dengan demikian, walaupun tahun depan, dia selesai menjabat, Zainul Majdi memastikan pemerintah daerah akan terus mendukung dan mengembangkan program ini karena selaras dengan upaya pmerintah NTB meningkatkan taraf hidup warganya.