Berkat PITAP Produksi Perikanan Budidaya Meningkat

Karawang (Indoagribiz)—–Peningkatan produksi perikanan budidaya yang berkelanjutan perlu dukungan perbaikan prasarana dan sarana budidaya seperri saluran irigasi yang digunakan untuk budidaya. Guna memaksimalkan fungsi jaringan saluran irigasi tambak, Direktorat  Kawasan dan Kesehatan Ikan (KKI) Ditjen Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sejak 2013 tahun lalu telah menggulirkan program bantuan Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif (PITAP). Kegiatan yang sudah berlangsung 9 tahun ini berdampak signifikan terhadap peningkatan produksi perikanan budidaya.

Direktur Kawasan dan Kesehatan Ikan, Ditjen Perikanan Budidaya KKP, Tinggal Hermawan mengatakan, hingga saat ini  kegiatan PITAP melibatkan pembudidaya ikan yang tergabung dalam Kelompok Pengelola Irigasi Perikanan (Poklina) berjalan dengan baik. Bahkan, penyelenggaraan irigasi swakelola berbasis peran serta Poklina, mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan kegiatan dan pemeliharaan, realisasinya melebihi dari target yang ditentukan.

Data Direktorat KKI, Ditjen Perikanan KKP menyebutkan,  kegiatan rehabilitasi saluran tambak tersier yang dilakukan masyarakat bersama Poklina selama perode 2013-2019 (kecuali tahun 2017) mengalami peningkatan sebesar 156,90 persen per tahun. Dalam periode tersebut telah dilakukan rehab saluran sepanjang 766,171 Km2.

Menurut Tinggal, kegiatan  PITAP yang melibatkan banyak orang merupakan salah satu komponen penunjang percepatan realisasi target peningkatan ekspor udang hingga 250 persen  pada tahun 2024.  Kegiatan PITAP juga membutuhkan komitmen bersama untuk memastikan program dapat berjalan dengan baik.

“ Karena itu, sinergitas antar stakeholder yang terlibat sangat penting. Sinergisitas ini untuk memastikan tercapainya tujuan peningkatan fungsi sarana irigasi tambak serta pembangunan kawasan perikanan budidaya berkelanjutan,” papar Tinggal.

Kegiatan PITAP periode 2013-2019 dilakukan  di 19 provinsi, 77 kabupaten/kota,  dan 297 Poklina mampu memberi manfaat kepada masyarakat, khususnya para petambak. Setelah jaringan irigasi tambak tersier direhabilitasi secara gotong-royong, petambak udang dan bandeng lebih maksimal dalam melakukan budidaya.

Tinggal mengatakan, lantaran banyak manfaatnya bagi petambak dan masyarakat sekitarnya, kegiatan rehabilitasi jaringan irigasi tambak tersier akan dilanjutkan. “ Lembaga yang mengelola irigasi tambak tersier, yakni Poklina pun harus dikuatkan. Sehingga, pengelolaan irigasi tambaknya bisa maksimal, yang pada akhirnya akan mendorong peningkatan produksi perikanan budidaya,” jelasnya.

Hal yang hampir sama diungkapkan, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Karawang, Jawa Barat (Jabar), H. Abuh Bukhori. Menurut Abuh Bukhori,  kegiatan PITAP yang melibatkan Poklina merupakan terobosan dalam mengembangkan budidaya tambak. Mengingat, selama ini belum ada organisasi atau lembaga di tingkat petambak yang khusus mengelola jaringan irigasi tambak tersier.

Abuh juga mengatakan,  Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif (PITAP) yang dikembangkan Direktorat KKI,  Ditjen Perikanan Budidaya  KKP akan berimplikasi langsung terhadap program peningkatan produksi udang nasional.  Poklina yang dilibatkan dalam kegiatan tersebut terjun langsung  mengelola jaringan irigasi tambak. Mereka juga mengawasi tata kelola irigasinya.

“ Apabila pengairan tak lancar, akan mempengaruhi proses produksi tambak. Dengan adanya Poklina, jaringan irigasi tambak bisa dikontrol setiap saat dan ketersediaan airnya terjamin. Maka, proses budidaya tak ada hambatan, sehingga produksinya akan meningkat,” papar Abuh, di Karawang, Senin (15/11).

Menurut Abuh, areal tambak di Karawang seluas 18.000 ha. Dari luasan tambak tersebut, sekitar 50 persen saluran irigasi tersiernya kurang baik. Karena itu, kehadiran PITAP yang melibatkan Poklina di Karawang selalu ditunggu masyarakat pembudidaya.

“ Bersama Poklina, masyarakat pembudidaya pun ikut berpartisipasi atau bergotong-royong dalam mengelola jaringan irigasi tambak. Apabila sebelumnya mereka mengurusi irigasi yang masuk ke tambaknya sendiri, sekarang jaringan irigas tambak tersier tersebut mulai dirawat bersama-sama,” kata Abuh.

Dalam kesempatan tersebut, salah satu tim PITAP Direktorat KKI, Ditjen Perikanan Budidaya KKP, Wakhid mengungkapkan, PITAP merupakan kegiatan rehabilitasi saluran irigasi tambak yang dilaksanakan oleh Poklina.  Saluran irigasi yang direhabilitasi  adalah saluran irigasi tersier, yaitu jaringan irigasi yang berfungsi sebagai prasarana pelayanan air irigasi dalam petak tersier yang terdiri atas saluran tersier, saluran kuarter, saluran pembuang, dan bangunan pelengkapnya.

“ Kegiatan PITAP sudah dimulai sejak tahun 2013. PITAP yang kami kembangkan bersama Poklina ini sebagai pancingan untuk mengungkit peningkatan produksi perikanan budidaya,” kata Wakhid.

Menurut Wakhid,  dari 77 kabupaten/kota yang mendapat bantuan kegiatan PITAP, salah satunya Kabupaten Karawang, Jawa Barat (Jabar). Poklina yang bertugas membantu kegiatan PITAP di Kawarang tersebar di 6 kecamatan.

Wakhid berharap, dari 9 kecamatan yang ada di Karawang, masing-masing kecamatan memiliki lembaga Poklina yang anggarannya dari pusat maupun dari dana alokasi khusus (DAK). “ Jadi, dari 9 kecamatan itu, ke depannya 5 kecamatan bisa mendapatkan anggaran dari pusat dan 4 kecamatan lainnya dari DAK. Sehingga tak ada dana yang mubazir. Setelah ada penguatan kelembagaan, Poklina bisa dibentuk sampai tingkat desa,” kata Wakhid.

Menurut Wakhid, PITAP yang diselenggaran di Karawang mampu mengungkit ekonomi masyarakat pada umumnya, dan petambak pada khususnya. Sebab, luasan tambak di Karawang sangat potensial dikembangkan, apabila jaringan irigasinya ditata dan dikelola bersama masyarakat pembudidaya.

Tiga Kali Panen dan Produksi Meningkat

Kehadiran kegiatan PITAP di Kabupaten Karawang  kurun tiga tahun terakhir, sangat dirasakan manfaatnya bagi petambak. Masyarakat Karawang yang umumnya membudidaya udang dan bandeng, saat ini mampu panen tiga kali setahun. Bahkan, produksi  bandeng dan udang (vaname) yang dibudidaya hasilnya meningkat signifikan.

Ketua Poklina Anugrah Sejahtera, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kab. Karawang, Ratim Sutarjo mengatakan,  sejak dilakukan rehabilitasi saluran secara bertahap berimplikasi pada peningkatan produksi udang dan bandeng. Jika sebelumnya pembudidaya hanya mampu tanam  bandeng  3.000 ekor/ha, maka saat ini pembudidaya bisa tanam bandeng sebanyak 5.000 ekor/ha. Begitu juga untuk udang yang sebelumnya hanya tanam 20.000 ekor/ha, saat ini meningkat menjadi 30.000-40.000 ekor/ha.

“ Selain produksi meningkat, pembudidaya yang sebelumnya hanya mampu panen 1-2 kali per tahun, saat ini bisa panen 3 kali  per tahun. Ini semua berkat adanya kegiatan rehabilitasi saluran tambak tersier sepanjang 9 Km, yang mampu mengairi tambak seluas 800 ha,” kata Ratim.

Menurut Ratim, di Cilamaya terdapat 1.250 ha tambak udang, yang umumnya masih dikelola secara tradisional.  Dari lahan tambak tersebut,  terdapat 16 saluran tersier sepanjang 29 Km. Namun, yang baru direhabilitasi  sepanjang  9 Km.

Ratim juga mengatakan, saluran irigasi tambak yang direhabilitasi secara gotong-royong ini sangat memberi manfaat bagi petambak. Sebab, dengan lancarnya air di saluran tambak tersebut, pembudidaya bisa tanam udang dan bandeng tiap tiga bulan sekali.

“ Pada bulan Juli, Agustus, dan September biasanya kami jeda dulu, untuk menekan gangguan hama dan penyakit. Nanti, pada Oktober mulai tanam lagi, baik polikultur maupun monokultur. Karena air tersedia sepanjang tahun, pembudidaya banyak yang melakukan budidaya udang secara intensif dengan padat tebar yang lebih tinggi,” jelasnya.

Selain produktivitas budidaya udang dan bandeng meningkat, lanjut Ratim, pembudidaya saat ini juga mendapat keuntungan signifikan, karena harga udang dan bandeng selama pandemic covid 19 naik. Seperti bandeng, harganya saat ini Rp 24 ribu-Rp 25 ribu/Kg. Sedangkan udang, dipatok Rp 70 ribu/Kg.  Udang dan bandeng yang diproduksi petambak dijual ke koperasi.

Hal yang hampir sama diungkapkan, Ketua Poklina Mitra Mina Jaya, Kecamatan Cibuaya, Kab. Karawang, Anang. Menurut Anang, kegiatan PITAP mampu mendorong peningkatan ekonomi dan produktivitas pembudidaya bandeng, udang dan nila.

Anang mengatakan,  setelah irigasi tambak tersier direhabilitasi, air yang mengalir ke tambak menjadi lancar. Bahkan, luasan tambak yang teririgasi pun bertambah. Produktivitas budidaya udang juga meningkat, dari sebelumnya hanya 20.000-30.000 ekor/ha, saat ini bisa mencapai 1 juta/ha (100 ekor/m2).  Begitu juga untuk bandeng, yang sebelumnya 3.000 ekor/ha, saat ini bisa meningkat hingga 1.300 ekor/ha.

“ Karena aliran airnya lancar dan tertata dengan baik, pembudidaya bisa panen udang dan bandeng tiga kali setahun. Jadi, kegiatan PITAP ini sangat membantu petambak, khususnya petambak udang yang sebelumnya idle, karena kekurangan air untuk budidaya,” pungkas Anang. (ind)

Sumber Foto. Dok: Humas Direktorat KKI, Ditjen Perikanan Budidaya KKP