Berkat Kemitraan, Petani Kian Kokoh Kembangkan Tembakau

Lombok (Indoagribiz)— Kendati sejumlah sektor usaha terdampak pandemi covid 19,  namun salah satu komoditas perkebunan seperti tembakau tak terlalu terdampak. Petani tembakau virginia di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) justru bergairah dan tetap menjalankan usahanya untuk memenuhi kebutuhan hidupanya.

Kemitraan dengan perusahaan inilah yang membuat petani tembakau Lombok makin kokoh dalam mengembangkan budidaya tembakau Virginia. Dari kemitraan tersebut,  petani tembakau memiliki jaminan pasar, sehingga modal yang dibenamkan untuk usaha budidaya bisa balik kembali.

Salah satu petani tembakau Lombok, Hamdani mengatakan, dengan adanya kontrak di awal tahun, petani tembakau mempunyi jaminan pasar. “Dengan begitu, tembakau yang kami produksi terserap pasar. Apabila produksi terserap, ada rupiah yang kami dapatkan,” kata Hamdani, di Lombok, Rabu (3/11).

Di lahan tembakau virginia  GL 26 H seluas 2 ha, Desa Padamara, Kecamatan Sukamulia , Kabupaten Lombok Timur, Hamdani menyandarkan hidupnya. Hamdani juga berharap, kedepannya tembakau tetap eksis, sehingga bisa terus menopang dan memenuhi kehidupan sehari-hari para petani.

Hamdani mengatakan,  untuk menghasilkan bahan baku tembakau berkualitas,  petani perlu tambahan sarana produksi. Petani pernah mendapatkan bantuan pupuk dan pestisida. Namun, batuan itu masih terbatas. Diharapkan bantuan prasarana  dan sarana produksi tersebut setidaknya dapat memenuhi 50 persen dari kebutuhan budidayanya, baik alat kultivator, pupuk, bahan bakar, dan lainnya. Berkat bantuan tersebut, memudahkan petani dalam menjalankan budidaya tembakau.

“Kami mengapresiasi bantuan dari pemerintah pusat maupun daerah kepada kelompok tani kami, melalui dana APBD I seluas 20 ha dengan rincian pupuk KNO3 sebanyak 2 ton, ZK sebanyak 2 ton, dan ZA sebanyak 2 ton. Pupuk tersebut, sangat kami butuhkan dimasa pandemi ini,” kata Hamdani.

Menurut Hamdani, dalam proses pengeringan daun tembakau, petani masih menggunakan oven konvensional dengan bahan alternatif cangkang sawit dan kemiri. Untuk satu oven dapat menampung 550 stik atau sekitar 4 ton daun tembakau.

Sambil menunjukkan oven konvensional yang sedang memproses pengeringan daun tembakau M transisi daun C, Hamdani mengatakan, karakteristik daun tembakau ini memiliki karakter setelah matang tulang daunnya tidak fleksibel, agak kaku, dan terdapat bintik-bintik khas. Daun tembakau ada bintik inilah yang diminati/dicari pasar (pabrikan).

“Harapan kami kedepan, semoga pemerintah pusat maupun daerah membantu petani memberikan subsidi bahan bakar sawit karena dari tahun ke tahun harganya selalu meningkat,” kata Hamdani.

Sedangkan terkait dana bagi hasil menurut Hamdani, itu keringat kami sebagai petani tembakau. Artinya, ada tembakau, ada cukai. Sehingga,  kalau tidak ada tembakau, tidak ada cukai.

“ Kalau boleh jangan 25 persen ke bidang teknis, porsinya diharapkan paling tidak 50 persen, untuk meningkatkan kualitas bahan baku yang baik sesuai norma standard yang mengatur pengembangan tembakau baik produksi, budidaya dan lainnya,” katanya.

Lebih lanjut, Hamdani juga mendukung pengembangan tembakau, karena termasuk komoditas ekspor. Para petani juga dituntut untuk paham dan dapat memenuhi syarat standar kebutuhan pasar global.  “Karena itu, petani tembakau perlu pelatihan atau bimbingan teknis (bimtek) terkait penerapan budidaya yang baik, dan bimtek pendukung lainnya, demi meningkatkan kemampuan  SDM, sehingga dapat menghasilkan tembakau berkualitas dan berdaya saing , serta memenuhi standar pasar global,” papar Hamdani.

Hamdani mengaku, hal yang mendorongnya untuk terus mengembangkan komoditas tembakau karena secara turun temurun keluarganya komitmen mengembangkan tembakau. Terbukti dari orangtuanya yang berhasil menyekolahkan 5 orang bersaudara.

“ Kemudian, bisa membangun rumah, hanya dari sahabatnya, cuma satu sahabat ayah saya, sahabatnya yaitu tembakau,” ujarnya.

Sedangkan dari segi bisnis, lanjut Hamdani, keuntungannya lumayan besar. “kita kerja cuma 9 (Sembilan) bulan bisa untuk hidup 1 (satu) tahun. Kata kunci bermitra, kalau menanam tembakau harus bermitra, jangan tanam tembakau kalau tidak bermitra, digarisbawahi,” kata Hamdani.

Salah satu tim Ditjen Perkebunan, Togu Rudianto Saragih, selaku Perancang Peraturan Ahli Muda, Ditjen Perkebunan, Kementan mengatakan, pemerintah harus hadir untuk petani di waktu dan tempat yang tepat.  “ Pemerintah pusat maupun daerah seharusnya saling bersinergi membantu petani,  karena tak dapat dipungkiri komoditas perkebunan khususnya tembakau telah dan akan terus menopang kebutuhan hidup petani sehari-hari kedepannya,” kata  Togu Rudianto Saragih. (dap/Humas Ditjen Perkebunan)

Sumber Foto. Dok: Humas Ditjen Perkebunan