BBPBL Lampung Sukses Budidaya Lobster

Jakarta (Indoagribiz)— Selain Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo, salah satu unit pelaksana teknis (UPT) Ditjen Perikanan Budidaya, yakni Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung sukses membudidayakan lobster. UPT tersebut, sebelumnya sukses dalam fase pendederan yang merupakan titik kritis dalam tahapan pembudidayaan lobster, akhirnya sukses dalam fase pembesaran tahap I di KJA dengan tingkat kelulushidupan hingga 95 persen.

Seperti diketahui, fase pendederan segmentasi 1 yang dimulai dari benih bening lobster (BBL) sampai dengan ukuran 5 gram merupakan titik kritis dalam rangkaian kegiatan budidaya lobster. Pada periode awal pemeliharaan tersebut angka kematian mencapai titik tertinggi yang diakibatkan oleh kanibalisme dan kegagalan moulting.

Dari hasil uji yang dilakukan oleh BBPBL Lampung didapatkan survival rate hingga 50 persen untuk fase pendederan 1 dan survival rate hingga 92 persen untuk fase pendederan 2. Sedangkan untuk fase pembesaran 1 didapakan hasil survival rate hingga mencapai 95 persen.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb Haeru Rahayu mengungkapkan, semangat dari Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 17 Tahun 2021 terkait pembudidayaan lobster juga sudah terlihat di BBPBL Lampung. Hal tersebut dapat dilihat mulai dari fase pendederan 1 hingga ukuran 5 gram, kemudian fase pendederan 2 di atas 5 gram sampai dengan 30 gram, fase pembesaran 1 di atas 30 gram sampai dengan 150 gram, dan pembesaran 2 di atas 150 gram sudah bisa dilaksanakan oleh jajaran BBPBL Lampung.

Menurut Tebe, begitu panggilan akrab Tb Haeru Rahayu, keberhasilan budidaya lobster membuktikan bawha Indonesia memiliki kemampuan dan kompetensi untuk melakukan usaha budidaya lobster.

“  Saya tahu persis ini tidak mudah karena ada beberapa tahapan yang harus dilalui mulai dari pendederan BBL hingga pembesaran ukuran konsumsi,” ujar Tebe, dalam keterangan persnya, di Jakarta, Rabu (10/11).

Keberhasilan budidaya lobster  merupakan langkah awal dari rangkaian perjalanan panjang pembudidayaan lobster di Indonesia. Diharapkan, jajarannya untuk terus bekerja keras dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi pada seluruh tahapan budidaya lobster agar kehadiran KKP dapat dirasakan pembudidaya.

“Mudah-mudahan apa yang kami lakukan baik dari pusat maupun pemda betul-betul bisa menjadi jembatan untuk kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan khususnya pembudidaya lobster,” kata Tebe.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala BBPBL Lampung, Ujang Komarudin mengatakan,  beberapa metode telah diuji untuk meningkatkan angka survival rate dalam setiap segmen. Diantaranya, dengan menjaga kebersihan jaring serta melakukan seleksi dan grading agar dapat mengurangi tingkat kanibalisme.

Ujang juga mengatakan,  tim teknis  BBPBL Lampung juga melakukan beberapa uji coba perlakuan dalam kepadatan tebar dan tingkat kedalaman pemeliharaan, untuk mendapatkan hasil yang paling maksimal. Beberapa metode lain seperti aspek pakan mulai dari tingkat kesegaran, periode pemberian, jumlah yang diberikan dan pembersihan sisa pakan juga sedang dimonitor efeknya terhadap pertumbuhan dan masa pemeliharaan lobster.

“ Kami juga tidak menutup kemungkinan terhadap teknologi lain untuk dapat diterapkan dalam berbagai segmen usaha pembudidayaan lobster,” kata  Ujang.

Guna  menggugah semangat pembudidaya dalam melakukan usaha budidaya lobster, BBPBL Lampung telah menyalurkan 4.500 ekor benih lobster hasil pendederan tahap I kepada pelaku usaha budidaya di wilayah kerjanya. “Semoga semangat yang diusung KKP dapat menular kepada masyarakat, khususnya pembudidaya guna memajukan industri budidaya lobster dalam negeri,”  papar Ujang.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, Liza Derni mengatakan, pihaknya selalu mengutamakan koordinasi dengan pemerintah pusat dalam hal ini KKP yang diwakili oleh BBPBL Lampung untuk setiap program dan kebijakan di daerah agar tetap sinergis dengan program yang diusung oleh KKP.

“Kami mendukung Permen KP Nomor 17 Tahun 2021 untuk dapat diterapkan di wilayah Lampung. Kami selalu berkoordinasi dengan pusat maupun dengan aparat penegak hukum agar tidak melanggar aturan yang telah disepakati,”  kata Liza.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan bahwa menutup keran ekspor BBL untuk mendorong geliat budidaya lobster dalam negeri, meningkatkan devisa melalui ekspor lobster konsumsi, pertumbuhan ekonomi masyarakat dan menjamin kelestarian BBL maupun lobster di alam. (ind)

Sumber Foto. Dok: Humas Ditjen Perikanan Budidaya