Bappenas Inisiasi Kemitraan Pengembangan Pangan di Bali
Jakarta – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menginisiasi kemitraan
antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha, untuk
pengembangan pangan di Bali yang fokus pada penelitian dan penguatan
logistik pangan.
“Ini dalam rangka mengatasi salah satu persoalan penting di Bali yaitu
kesenjangan antara Sarbagita Selatan dan Utara,” kata Sekretaris
Kementerian PPN/Sekretaris Utama Bappenas Himawan Hariyoga dalam
keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (27/8).
Sebagai langkah awal Bappenas menandatangani nota kesepahaman dengan
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng, Universitas Pendidikan Ganesha
(Undiksha), Trade and Investment Government of Queensland, dan Central
Queensland University (CQU) Australia, di Kantor Gubernur Bali, Senin.
Nota kesepahaman ini untuk kerja sama pembangunan pertanian yang
menekankan penelitian dan pengembangan, aplikasi teknologi maju, dan
keterlibatan bersama untuk memastikan rantai pasokan untuk
pengembangan ternak khususnya sapi di Bali.
Ia mengharapkan Undiksha dapat mengembangkan dunia industri dan
lainnya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi antara utara dan selatan.
Sementara itu Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Arifin
Rudiyanto menambahkan nota kesepahaman itu memuat lima aspek yakni
rangkaian pemulihan ekonomi nasional hingga 2021.
Kementerian PPN/Bappenas merancang Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2021
yang fokus mempercepat pemulihan ekonomi dan reformasi sosial, salah
satu fokusnya sistem pangan nasional yang andal dan berkelanjutan.
Kemudian kemitraan ini fokus pada aplikasi teknologi dalam budi daya
ternak sapi seperti yang diterapkan di Australia.
Di dalam pola kemitraan ini, penguatan keterkaitan inovasi dan adopsi
teknologi antara riset yang ada di perguruan tinggi maupun lembaga
penelitian lainnya dengan pengelola peternakan menjadi salah satu
fokus utama.
Nota kesepahaman, lanjut dia, diarahkan dalam mengembangkan populasi
sapi Bali sampai satu juta ekor untuk memenuhi permintaan daging sapi
yang terus meningkat, baik di Bali maupun daerah sekitar, khususnya di
Jawa.
Bali, kata dia, juga diarahkan sebagai basis pembesaran sapi Bali
dunia, mengingat potensi Kabupaten Buleleng sebagai Pusat Perkembangan
Ternak Ruminansia.
Selanjutnya nota kesepahaman sejalan dengan salah satu dari 41 Proyek
Prioritas Strategis dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) Tahun 2020-2024, yakni penguatan jaminan usaha serta 350
korporasi petani dan nelayan.
Sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman tersebut, Kementerian
PPN/Bappenas mengusulkan akselerasi korporasi peternakan sapi di Pulau
Dewata dalam rancangan Rencana Kerja Kementerian Pertanian yang
dimulai dari 2021.
Tak hanya itu, kemitraan ini juga memperkuat pembiayaan kreatif,
tetapi juga swasta dan masyarakat, termasuk di dalamnya lembaga
internasional. Melalui kemitraan itu menjadi momentum bagi Indonesia
memperkuat produksi pangan dunia.
“Indonesia tidak hanya menjadi pasar pangan bagi negara produsen
pangan lainnya, tetapi juga dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai
produsen pangan, baik untuk kebutuhan regional, nasional, hingga
global,” katanya.