INDOAGRIBIZ–Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian, menyiapkan cabai varietas unggul baru (VUB) yang dinilai memiliki sejumlah keunggulan.

Melalui keterangan tertulis dari Balitbangtan yang diterima di Jakarta, Sabtu (25/11), disebutkan calon varietas H-1 tersebut merupakan hasil penelitian Balai Penelitian dan Pengembangan Tanaman Sayur (Balitsa).

Menurut Kusmana, Peneliti Balitsa, calon varietas H-1 tersebut memiliki produktivitas paling tinggi yaitu mencapai 19,7 ton/ha dengan rerata jumlah buah/tanaman mencapai 54,06 buah. Selain itu, calon varietas H-1 memiliki keunikan warna buah muda yaitu hijau muda lebih muda dibandingkan dengan varietas pembandingnya yakni Cosmos, Merona, Hot Beauty, dan Batalion.

Keunikan lainnya calon varietas H-1 memiliki karakter pada buahnya, yaitu berpundak sementara varietas pembandingnya tidak memiliki pundak. “Karena calon varietas H-1 memiliki keunikan secara morfologi dan memiliki produktivitas hasil yang tinggi maka genotipe H-1 diusulkan untuk didaftarkan sebagai varietas unggul baru,” kata dia.

Cabai merupakan salah satu sayuran utama yang banyak ditanam petani di Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) luas areal pertanaman cabai besar pada 2015 mencapai 128.734 hektar dengan produksi 1.074.602 ton dan produktivitas 8,35 ton/ha (BPS 2015).

Kusmana mengatakan, rendahnya produktivitas cabai nasional dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik. Faktor biotik yang dominan ialah serangan hama dan penyakit tanaman. “Pemilihan varietas yang cocok merupakan hal yang sangat penting dilakukan oleh petani sebelum memulai usaha tani cabai merah,” katanya.

Menurut Kusmana, terjadinya perbedaan hasil cabai yang tinggi antara wilayah satu dengan yang lainnya diduga karena kurang tepat dalam pemilihan varietas karena beberapa varietas cabai menghendaki tumbuh optimal pada lingkungan yang spesifik di samping aspek budidaya lainnya yang terabaikan.

Kusmana mengatakan penggunaan varietas yang “resisten” atau tahan terhadap hama dan penyakit sangat dianjurkan, karena selain dinilai dapat menekan biaya produksi, juga dapat mengurangi risiko dampak negatif penggunaan bahan kimia yang berlebihan.

Ketersediaan sumber daya genetik (SDG) cabai tahan terhadap penyakit utama seperti antraknosa, lanjutnya, masih jarang digunakan. “Keterbatasan varietas resisten disebabkan karena beberapa hal di antaranya tidak tersedianya SDG yang dapat dijadikan sebagai tetua, tidak didapatkan informasi mengenai pewarisan ketahanan, dan tidak diketahui kendali genetiknya,” tutup Kusmana. (moh)