Balitbangtan Lakukan Pemutakhiran Peta Lahan Gambut
Indoagribiz – Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan
Litbang Pertanian sejak 2011 hingga 2019 melakukan pemutakhiran peta
gambut dari skala 1:250.000 langsung ke pendetailan ke skala 1:50.000.
Peneliti senior Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Sofyan
Ritung, pada Webinar Pemanfaatan Gambut Berkelanjutan mengatakan,
pemanfaatan gambut untuk pertanian perlu didahului identifikasi dan
karakterisasi secara detail pada skala operasional agar tidak salah
rekomendasi.
Selain itu lahan gambut yang termasuk ekosistem rawa juga tergolong
lahan yang dinamis ketika dimanfaatkan terutama karena didrainase
sehingga pemutakhiran perlu dilakukan 5-10 tahun sekali agar tetap
terkini datanya.
“Belum sampai 10 tahun pemutakhiran peta lahan gambut telah dilakukan
pada 2 level skala,” kata Sofyan melalui keterangan tertulis di
Jakarta, Minggu (21/6).
Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan, lanjutnya, juga telah melakukan
pemutakhiran klasifikasi kedalaman atau ketebalan gambut untuk
kepentingan pemanfaatan gambut dari semula 4 kelas menjadi 6 kelas.
Saat ini dikenal gambut dangkal (50-<100 cm), sedang (100-<200 cm),
dalam (200-<300 cm), sangat dalam (300-<500 cm), sangat dalam sekali
(500-<700 cm), hingga ekstrim dalam >700 cm).
Peta lahan gambut Indonesia skala 1:50.000 disajikan per
kabupaten/kota yang memuat informasi sebaran gambut dengan legenda
tingkat kematangan dan kedalaman gambut serta beberapa sifat fisik dan
kimia yang dapat digunakan berbagai kepentingan seperti penilaian
potensi untuk pertanian dan lingkungan.
Saat ini gambut tersebut tersebar di 3 pulau besar yaitu Sumatera,
Kalimantan, dan Papua serta sedikit di Sulawesi dengan tingkat
kematangan umumnya setengah matang sampai matang.”Kedalaman gambutnya
juga beragam dari dangkal hingga ekstrim dalam,” katanya.
Lahan gambut merupakan lahan terisi tanah gambut yang rapuh (fragile
soil). Gambut menjadi mudah berubah dan rentan rusak ketika terusik.
Gambut berupa material organik sangat ringan, kesuburan rendah dengan
pH masam sampai sangat masam.
“Dengan demikian pemanfaatan lahan gambut perlu kehati-hatian. Perlu
disesuaikan potensi dan penerapan teknologi pengelolaan lahan yang
tepat,” kata Sofyan.
Sebut saja teknologi tepat guna berupa pengelolaan air, pembukaan
lahan tanpa bakar, serta amelioran dan pemupukan.
Prof Budi Mulyanto dari IPB, mengapresiasi cara Balitbangtan
mengutamakan landform sebagai dasar metode pemetaan, karena hal itu
mampu memberi informasi pada ekosistem seperti apa gambut terbentuk.
Menurut Budi, metode tersebut tentu kemajuan yang berarti bagi
pemetaan gambut sehingga pemetaan gambut lebih baik meskipun harus
diakui masih terdapat kelemahan.