INDOAGRIBIZ--Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian, mengenalkan dua varietas unggul mangga yakni Gadung 21 dan Agri Gardina 45 dalam ajang Agro Inovasi Fair 2017 di Bogor, Jawa Barat.

Keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (27/11), menyebutkan, Mangga Agri Gardina 45 memiliki karakter tajuk rendah sekitar 3 m, genjah (umur 3 tahun setelah tanam sudah berbuah bahkan umur 1,5 tahun ada yang sudah berbuah), umur panen genjah (90-100 hari setelah bunga mekar).

Selain itu, produksi tinggi, yakni pada umur 3 tahun berproduksi 136 buah/pohon/tahun dan umur 4 tahun berproduksi 273 buah/pohon/tahun), dan warna kulit buahnya menarik.

Menurut Kepala Puslitbang Hortikultura Hardiyanto, pangkal buah mangga yang berwarna merah serta ujung kuning menjadikan Agri Gardina 45 sangat cocok untuk tanaman pekarangan baik di pedesaan maupun untuk tabulampot (tanaman buah dalam pot) di perkotaan karena tanaman tersebut bertajuk rendah dan indah, rasa buahnya enak, aromanya harum. “Penampilannya menarik serta dapat dimakan seperti makan pisang, sering disebut mangga pisang,” kata dia.

Sementara Mangga Gadung 21 memiliki ukuran buah besar, daging buah tebal, kuantitas serat pada daging buah rendah, kadar pati cukup tinggi (10,27 persen) dan kadar air rendah (75-77 persen) sehingga buah masak pohon bisa dimakan memakai sendok, serta rasanya manis (TSS 15-21 Brix).

Gadung 21 dapat dimakan dengan dibelah tengahnya, kemudian diputar hingga terbelah menjadi dua dan dapat dimakan menggunakan sendok seperti makan buah alpukat. Karena cara makannya seperti makan buah alpukat maka masyarakat menyebutnya mangga alpukat.

Hardiyanto mengatakan, mangga merupakan komoditas hortikultura yang strategis bagi Indonesia karena, selain disukai konsumen dalam negeri juga disukai konsumen luar negeri dan menjadi komoditas ekspor penyumbang devisa negara.

Namun demikian, tambahnya, kondisi agribisnis mangga masih banyak menghadapi kendala, yang mana permasalahan yang muncul secara menonjol di Indonesia adalah rendahnya kualitas dan kontinyuitas buah, periode produksi yang pendek sehingga terjadi penumpukan pada satu waktu sehingga fluktuasi harga yang tinggi, serta terbatasnya pelaku di sektor on-farm.

Selain itu, persaingan yang semakin berat di pasar global, membutuhkan inovasi teknologi dalam pengusahaan mangga baik dari sisi on-farm maupun off-farm. “Para pelaku usaha di negara-negara pesaing terus mengembangkan inovasi untuk memenangkan persaingan pasar mangga,” ujar dia.

Terkait hal itu, lanjut dia, Balitbangtan selama 43 tahun telah menghasilkan berbagai teknologi inovatif yang dapat diterapkan oleh pengguna untuk meningkatkan daya saing mangga Indonesia. (moh)