Panen padi di lahan kering.

INDOAGRIBIZ–Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) pada musim tanam (MT) II 2017 memperkenalkan teknologi baru untuk budidaya padi lahan kering yakni teknologi largo super.

Melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin (5/2), disebutkan, pertanaman padi gogo di lahan kering dengan model pengembangan produksi largo super dilakukan di Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, sudah pada lahan 100 hektare dan telah memasuki masa panen.

Petani yang menanam dengan metode largo super juga mendapat pendampingan dari petugas detaser Balai Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Badan Litbang Pertanian.

Nurkholis, salah satu petugas detaser dari BB Padi mengatakan, bukan perjalanan yang mudah untuk meyakinkan petani bahwa lahan 100 ha yang ditanami varietas unggul dan teknologi largo akan berhasil.

“Awalnya banyak keraguan yang muncul dari para petani terlihat dari raut wajah mereka,” katanya disela-sela panen di Desa Banjareja, Rabu (31/1).

Pelan-pelan dengan berbagai pendekatan akhirnya petani sepakat lahan yang ada di Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, ditanami padi sesuai anjuran Pemerintah. Kendala-kendala di lapangan seperti serangan hama penyakit, tambahnya, pelan bisa diatasi dengan penuh kesabaran.

Pemilihan areal lahan kering yang dekat dengan pesisir pantai selatan, disebutkan, karena Badan Litbang Pertanian bertekad ingin meningkatkan produksi padi lahan kering sekaligus bisa memaksimalkan lahan tegakan kelapa agar petani punya nilai tambah.

Memasuki masa panen massal awal musim ini, beberapa kegiatan telah dilaksanakan seperti sekolah lapang model pengembangan sistem produksi padi gogo largo super yang diikuti kelompok tani (poktan) dan gabungan kelompok tani (gapoktan) sekecamatan Puring.

Dari hasil panen ubinan BPS, Dinas Pertanian Kebumen, BB Padi dan BPTP Balitbangtan Jateng diketahui produktivitas Inpago 8 sebanyak 5,0 ton/ha, Inpago 9, sebanyak 6,1 ton/ha, Inpago 10 sebanyak 7,9 ton/ha, dan Inpago 11 mencapai 7,1 ton/ha.

Pada musim-musim sebelumnya rata-rata hasil panen di tingkat petani 4 ton/ha sehingga dengan inovasi largo super yang saat ini diterapkan bisa meningkatkan produksi 1-3 ton/ha.

Damiri salah seorang petani Desa Banjareja mengatakan Inpari 10 yang punya karakter tanamannya masih hijau di saat umur panen bisa untuk pakan sapi dan memberikan nilai tambah karena jeraminya bisa dijual dengan harga Rp12.000-Rp15.000 per ikat.

Dari pengalaman yang sudah dia alami, luas lahan 1 ha bisa memperoleh 500 ikat jerami, sehingga mendapat tambahan keuntungan dari jerami mencapai Rp6 – 7,5 jt setiap musim. [moh]