INDOAGRIBIZ–Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian menyatakan, padi varietas Inpari 32 HDB yang dilepas tahun 2013 telah diadopsi oleh petani di beberapa provinsi di Indonesia.

Jenis padi inbrida padi sawah irigasi hasil pengembangan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Sukamandi tersebut, menurut keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (3/2), sebaran penggunaannya di kalangan petani cukup pesat, salah satunya oleh petani Desa Wotan, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yang selalu menanam varietas Inpari 32 HDB.

Kepala BB Padi Moh. Ismail Wahab ketika menerima petani asal Kabupaten Pati yang melakukan studi banding di BB Padi mengatakan agar mereka selalu melakukan monitoring perkembangan hama dan melakukan pemilihan varietas yang tepat.

Ia berharap walaupun empat musim yang lalu petani berhasil dan sudah terlanjur menyukai Inpari 32 HDB, namun mereka diminta melakukan pergiliran varietas. “Ini penting karena dengan pergiliran varietas bisa menentukan keberhasilan petani menekan serangan hama dan menghindari kegagalan panen,” kata dia.

Inpari 32 HDB merupakan varietas turunan Ciherang berumur kurang lebih 120 hari setelah semai dan memiliki tinggi tanaman 97 cm, dengan postur tanaman tegak, serta daun bendera yang tegak menjulang sehingga mampu menerima dan memanfaatkan sinar matahari secara optimum untuk pertumbuhannya.

Dibandingkan varietas tetuanya tersebut, Inpari 32 HDB memiliki beberapa keunggulan yang signifikan baik dari ketahanannya terhadap penyakit maupun hasil gabahnya. Varietas unggul itu memberikan respon tahan terhadap penyakit HDB ras III, artinya penggunaan varietas ini di lahan endemis HDB atau yang dikenal sebagai penyakit kresek akan menekan penyemprotan bakterisida.

Selain itu, varietas ini juga bereaksi agak tahan terhadap penyakit tungro ras lanrang, sehingga baik untuk dikembangkan di daerah-daerah lahan irigasi yang endemis tungro. “Terlebih dengan satu tambahan keunggulannya berupa ketahanannya terhadap 2 ras penyakit blas untuk antisipasi permasalahan baru di lahan irigasi di Indonesia yang saat ini juga menjadi momok baru pada pertanaman padi,” ujar dia.

Varietas turunan Ciherang dan IRBB 64 tersebut walaupun memiliki potensi hasil yang seimbang dengan Ciherang, namun di banyak lokasi mampu menghasilkan rata-rata 8 ton/ha.

Menurut dia, dengan rasa nasi yang setara dengan Ciherang (medium), tidak heran jika dalam waktu singkat, varietas Inpari 32 HDB mulai menjadi primadona di lahan-lahan sawah irigasi.

Kaslan petugas PPL yang mendampingi petani saat studi banding di BB Padia mengatakan bahwa selama empat musim berturut-turut petani Desa Wotan, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, selalu menanam varietas Inpari 32 HDB. Menurut dia, petani sudah terlanjur menyukai varietas tersebut karena merasakan langsung adanya kenaikan produktivitas yang tinggi jika dibanding dengan varietas-varietas lain yang mereka tanam pada musim-musim sebelumnya.

Selama empat musim tanam I 2016 sampai musim tanam 2017 luas lahan sawah yang ditanami varietas Inpari 32 kurang lebih 2.000 hektare dengan teknologi sistem tanam jajar legowo 4:1. [moh]