INDOAGRIBIZ–Produksi beras Indonesia dan India menurut asumsi Bank Dunia atau World Bank, tetap baik dan mampu memasok kebutuhan masyarakat sekalipun dilanda musim kekeringan sepanjang tahun 2017 ini. Memang ada sedikit penurun produksinya.

“Kondisi di India, Indonesia dan Filipina tetap baik. Karena konsumsi global diperkirakan akan tetap konstan, rasio stock-to-use terlihat mencapai angka tertinggi kurun waktu 11 tahun terakhir, yakni setara 30 persen,” ujar Bank Dunia (World Bank) mengumumkan outlook perkiraan produksi beras tahun 2018, sebagaimana dikutip dari laman resmi Kementerian Pertanian, Selasa (31/10).

Namun menurut Bank Dunia produksi beras secara global terjadi penurunan cukup signifikan yakni 489 miliar metrik ton (mmt) tahun 2017-18, atau setara 3 mmt lebih rendah dari musim yang lalu. Penurunan ini terutama menanggapi kondisi iklim di Indonesia dan beberapa negara produsen beras Asia, terutama China, Thailand utara, dan Vietnam.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo-JK, telah memerintahkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berkerja sama dengan semua pihak termasuk personil TNI, untuk menggerakkan para petani di desa – desa demi meningkatkan produksi komoditas mulai dari gabah, jagung, bawang, kedelai, kopi, karet, kelapa sawit, lada dan lainnya.

Mengenai kondisi pasokan beras, Indeks Harga Pertanian menurut Bank Dunia, tidak berubah pada tahun 2017 dari tahun sebelumnya. Namun tahun 2018 diperkirakan akan naik moderat sebesar 1 persen.

USDA Oktober ini juga memperbaharui persediaan produk hasil pertanian global secara gabungan yakni stok awal plus produksi berbagai komoditas hasil pertanian seperti gandum, jagung, dan beras. Stoknya diproyeksikan mencapai 2.896 mmt ini musim, setara 8 mmt lebih rendah dari 2016-17 akibat menurun produksinya.

Masih menurut prediksi Bank Dunia, keuntungan komoditas kedelai, minyak kedelai, dan inti harga sawit minyak juga diimbangi oleh penurunan produksi kelapa sawit dan minyak kelapa, karena banyaknya stok di negara produsen terbesar di dunia yakni Indonesia dan Malaysia.

Untuk produksi minyak nabati juga katanya prospeknya bagus. Tetap menguntungkan menyusul penurunan tajam produksi periode 2015-16 disebabkan El Niño. Konsumsi pasar global untuk minyak nabati paling banyak termasuk kelapa sawit, kedelai, dan minyak lobak.

Diperkirakan produksinya mencapai 192 mmt lebih besar 5 persen dari musim lalu dan kumulatif 10 persen di atas 2015-16. Lebih dari separuh pertumbuhan produksi diperkirakan berasal dari minyak sawit, yang diproduksi Indonesia dan Malaysia. Minyak kedelai, di mana, Argentina, Brazil, dan Amerika Serikat termasuk di antara produsen utama. [MOH]

Foto : laman resmi Kementan