INDOAGRIBIZ–Gelaran Sarasehan Nasional Bisnis dan Teknologi Komoditas Udang 2018 digelar Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) di Sekolah Tinggi Perikanan (27/3). Kegiatan yang dihadiri stakeholder perudangan nasional ini menjadi cikal bakal terbentuknya embrio Asosiasi Udang Indonesia.

Ketua STP Mochammad Heri Edy mengatakan, sebagai tuan rumah STP mendukung kegiatan yang diinisiasi MAI, diantaranya dengan mencetak sdm berkompeten yang terampil dan mampu mendorong kemajuan sektor perikanan salah satunya budidaya udang, yang memiliki potensi ekonomi yang besar.

Ikut angkat bicara pada kegiatan ini, Ketua Umum MAI Prof. Dr. Rokhmin Dahuri mengatakan, Indonesia sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia yakni 95.185 km, memiliki potensi lahan pesisir untuk tambak udang terluas di dunia mencapai lebih dari 3 juta ha. Dengan potensi lahan yang ada ditambah mahalnya harga udang yang cenderung stabil, seharusnya Indonesia dapat menjadi negara produsen dan pengekspor udang budidaya terbesar di dunia.

Rokhmin menyebut, berdasarkan data International Trade Center (2017), pertumbuhan ekspor komoditas perikanan Indonesia pada periode 2012-2016 rata-rata tumbuh hanya 2,37 persen pertahun. Total nilai ekspor komoditas perikanan tahun 2012 mencapai USD 3,59 miliar dan tahun 2016 meningkat kecil menjadi 3,86 miliar dollar AS. Selanjutnya kontribusi nilai ekspor udang vaname beku (letapenaus vanamae) terhadap total nilai ekspor perikanan tahun 2016 mencapai lebih dari 27 persen. Udang memiliki peranan yang besar terhadap kinerja ekonomi perikanan Indonesia. Namun demikian, hingga saat ini nilai ekspor udang Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara produsen udang dunia lainnya, seperti India, Vietnam, Ekuador, Tiongkok, dan Thailand. Tahun 2016 India tercatat sebagai negara yang memiliki nilai ekspor udang tertinggi di dunia, yaitu mencapai 3,70 miliar dollar AS.

Rokhmin mengatakan, perlu dibentuk Indonesia Aquaculture Incorporated. “Apa itu Indonesia Aquaculture Incorporated? Setiap komponen dalam sistem usaha budidaya udang, seperti pengusaha hatchery, pakan, petambak, pengolah, pemerintah, asosiasi, peneliti, dan dosen, harus mengeluarkan atau menyumbangkan kemampuan terbaiknya, sehingga menghasilkan output terbaik. Antar komponen sistem usaha budidaya udang harus solid, care and share, strengthening to each other, dan bekerja sama secara sinergis.”

Saat ini di Indonesia asosiasi yang bergerak pada bisnis udang masing-masing berdiri sendiri, yaitu asosiasi pada on farm, off farm hulu maupun off farm hilir. Hal ini berbeda dengan negara maju, dimana kelembagaan asosiasi tersebut terhimpun dalam satu wadah yang besar sehingga asosiasi ini bisa fokus, solid dan kuat dan akhirnya memilki posisi tawar yang tinggi dalam penyusunan regulasi Pemerintah.

Senada dengan Rokhmin, Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Budhi Wibowo, perlu dibentuk forum komunikasi udang yang melibatkan seluruh stakeholder perudangan dari hulu ke hilir.

Pada kegiatan ini, muncul gagasan dari stakeholder terkait untuk membentuk asosiasi yang menghimpun pelaku udang dari hulu ke hilir. “Nama yang diusulkan Asosiasi Udang Indonesia (AUDI),” ucap Agung Sekjen MAI. (ds)