Aplikasi Sistem Bioflok, Solusi Budidaya Lahan Terbatas

Jakarta (Indoagribiz)—- Budidaya sistem bioflok bisa menjadi salah satu solusi budidaya bagi masyarakat yang memiki lahan terbatas. Kini, teknologi sistem bioflok banyak menarik dan  diaplikasi masyarakat untuk budidaya komoditas ikan air tawar seperti ikan lele/nila.

 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong pemanfaatan teknologi budidaya sistem bioflok. Teknologi ramah lingkunagn ini dapat diaplikasikan lebih luas sehingga dapat meningkatkan produksi  dan pendapatan pembudidaya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb Haeru Rahayu, yang akrab disapa Tebe mengungkapkanm sebagai salah satu program prioritas bantuan pemerintah dalam bentuk sarana dan prasarana budidaya ikan sistem bioflok banyak menarik minat pembudidaya. Hal itu dikarenakan,  budidaya ini menjanjikan peningkatan pendapatan hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan sistem konvensional.

Keunggulan yang ditawarkan budidaya sistem bioflok ini mampu menampung padat tebar yang tinggi. Bahkan, budidaya sistem bioflok sangat efisien dalam penggunaan pakan dan air, serta dapat memaksimalkan penggunaan lahan.

“Keunggulan lain jika dibandingkan dengan sistem budidaya konvensional, teknologi bioflok dianggap lebih ramah lingkungan karena hemat dalam hal penggunaan air. Air bekas budidaya juga tidak berbau, sehingga tidak mengganggu lingkungan sekitar dan dapat disinergikan dengan budidaya tanaman misalnya sayuran dan buah-buahan,” kata Tebe, dalam keterangan pers, di Jakarta, Senin (27/9).

Tebe juga menilai bahwa komoditas yang ditawarkan dalam program bantuan ini berupa ikan lele dan nila. Kedua jenis ikan tersebut merupakan komoditas favorit masyarakat.  Sehingga, relatif lebih mudah dalam pemasaran, karena permintaan pasar yang tinggi.

Menurut Tebe, keberhasilan teknologi inovasi ini tentunya memerlukan kedisiplinan yang tinggi dalam pelaksanaannya. Pendampingan yang berkesinambungan akan tetap dilakukan oleh tim teknis kami maupun melalui penyuluh dan dinas setempat.

“ Kami berharap, program ini dapat berjalan secara berkelanjutan untuk menyejahterakan pembudidaya sekaligus menjadi jawaban akan kebutuhan pangan berprotein tinggi di masyarakat,” ujar Tebe.

Pastinya, budidaya sistem bioflok sangat menguntungkan. Sebagai gambaran, untuk pemeliharaan 30 ribu benih ikan lele pada 10 bak kolam bulat berdiameter 3 meter membutuhkan biaya produksi untuk benih, pakan, listrik dan probiotik sebesar Rp 40,6 juta per siklus atau 3 bulan. Investasi awal untuk kolam bulat, instalasi air dan aerasi serta peralatan budidaya dan juga biaya tetap per siklus untuk instalasi listrik dan upah tenaga kerja 1 orang membutuhkan biaya sebesar Rp 40 juta.

Sintasan dalam budidaya tersebut 90% dan bobot panen size 8 ekor per kilo setelah 3 bulan pemeliharaan, akan didapatkan 3.375 kg. Apabila asumsi harga jual Rp 15 ribu per kilo , maka hasil yang didapat pembudidaya sebesar Rp 50,6 juta per siklus (3 bulan pemeliharaan).

Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam, Jambi, Boyun Handoyo mengungkapkan , konstruksi kolam bioflok yang berbentuk bulat sangat efisien dalam penggunaan lahan serta tidak merusak konstruksi tanah, karena tidak ada penggalian tanah. Hal lain yang tidak kalah penting dalam budidaya sistem bioflok ini adalah perencanaan yang matang.

“Perencanaan itu  terutama dalam  hal konstruksi wadah budidaya, sumber air bersih, sumber daya listrik, ketersediaan sarana budidaya seperti benih berkualitas dan bahan pendukung lain, serta kapasitas produksi dan daya serap pasar di lokasi budidaya,” kata Boyun.

Boyun mengatakan, pada tahun 2021, BPBAT Sungai Gelam bertanggung jawab untuk menyalurkan 29 paket bantuan budidaya ikan sistem bioflok di wilayah kerjanya di Sumatera. “Kami bersyukur pada beberapa lokasi telah dilakukan proses penebaran benih seperti baru-baru ini dilakukan di  Kota Prabumulih, Provinsi Sumatera Selatan yang turut dihadiri oleh Bapak Walikota,” jelasnya.

Sebelumnya, BPBAT Sungai Gelam telah berkoordinasi dengan Pemda Kota Prabumulih dan sepakat untuk menjadikan Kota Prabumulih sebagai kota 1.000 kolam bioflok. Dengan kolaborasi ini dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan, program bioflok di Kota Prabumulih diyakini dapat sukses menjaga ketahanan pangan serta menyejahterakan masyarakat.

“Kami berharap bantuan ini akan berkelanjutan, menghasilkan panen sesuai target dan bertambah produksinya serta ditiru oleh masyarakat sekitarnya,” kata Boyun.

Dalam acara penebaran benih perdana bantuan budidaya ikan sistem bioflok di Kota Prabumulih pertengahan September 2021, Walikota Prabumulih, Ridho Yahya  mengatakan, Kota Prabumulih adalah sebuah kota yang kecil, sehingga tidak dapat mengikuti model seperti kabupaten lain yang memiliki lahan yang luas, untuk itu perlu adanya intensifikasi lahan. Kriteria tersebut menjadi salah satu alasan untuk memilih budidaya ikan sistem bioflok sebagai salah satu program yang dibutuhkan oleh Kota Prabumulih. Kriteria lain adalah Prabumulih sebagai juara HATINYA PKK, yakni program Halaman, Asri, Teratur, Indah dan Nyaman – PKK.

“ Dengan memiliki ketahanan pangan keluarga memanfaatkan lahan terbatas. Kriteria ketiga adalah Prabumulih sebagai kota perlintasan sehingga sangat strategis karena banyak orang datang untuk berbelanja. Kriteria terakhir yaitu masih banyaknya lahan yang tidak terpakai di Prabumulih dijadikan tempat untuk buang sampah, sehingga daripada dibiarkan mangkrak lebih baik kita jadikan lahan produktif,” katar Ridho.

Ridho juga mengungkapkan terimakasih kepada KKP atas paket bantuan yang diberikan melalui BPBAT Sungai Gelam. “Kita menargetkan Prabumulih sebagai kota 1.000 bioflok agar dapat menjadi kota ikan dan menjadi kiblat penerapan bioflok,” tandas Ridho.

Data Ditjen Perikanan Budidaya menyebutkan,  sejak tahun 2017 sebanyak 14 paket bantuan budidaya ikan sistem bioflok telah disalurkan KKP kepada masyarakat Kota Prabumulih atau sebanyak 130 kolam. Selain itu, sebanyak 4 paket bantuan  turut disalurkan melalui dana APBD Kota Prabumulih atau sebanyak 34 kolam.

Melalui teknologi padat tebar lebih tinggi, pendapatan pembudidaya mengalami peningkatan hingga 3-4 kali lipat dibandingkan sebelumnya sehingga banyak menarik minat masyarakat, yang diikuti dengan inisiasi oleh 12 Desa di Kota Prabumulih dengan menggunakan dana desa untuk melakukan swakelola kegiatan budidaya bioflok pada tahun 2021 ini. Adapun jumlah total bantuan budidaya ikan sistem bioflok yang telah disalurkan KKP sejak tahun 2015 hingga tahun 2021 ini mencapai 1.406 unit yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengusung tiga program terobosan KKP, dimana salah satunya ialah pembangunan kampung-kampung perikanan budidaya baik tawar, payau maupun laut berbasis kearifan lokal. “Pengembangan kampung-kampung perikanan perlu didorong sebagai upaya terciptanya lapangan kerja baru dan naiknya kesejahteraan masyarakat,” kata Menteri Trenggono. (ind)

Sumber Foto. Dok: Humas Ditjen Perikanan Budidaya