Apkasindo : Target EBT 23%  pada 2025 Masih Terlampau Kecil

Jakarta (Indoagribiz).  Penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) di tanah air hingga saat ini masih tergolong minim. Target penggunaan EBT yang dipastok Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) hingga 2025 sebesar 23%, sampai pada tahun 2020 baru terealisasi 10,9 %.

Padahal  target penggunaan EBT pada 2050  sudah harus di angka 31%. Inilah yang membuat Menteri ESDM, Arifin Tasrif. Hal itu dikarenakan, Indonesia masih tetap mengandalkan energi fosil; minyak bumi, batubara dan gas.

“ Padahal negara lain seperti Eropa dan Jepang terus meningkatkan penggunaan EBT nya,” kata Menteri ESDM, Arifin Tasrif pada Acara Summit Indonesia 2021, di Jakarta, Senin (1/2).

Menurutnya, Indonesia harus mampu mencapai target itu. Mengingat,  Indonesia penghasil Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat Manurung mengatakan, target EBT 23% di tahun 2025 masih terlampau kecil. Hal ini menggambarkan ketidakpercaya diri sebagai negara penghasil CPO terbesar dunia.

“ Tahun lalu produksinya mencapai 53 juta ton dan tahun ini diperkirakan akan naik 3-5%. Belum lagi sawit rakyat saat ini sudah berangsur membaik dengan produktivitas dua kali lipat dari tanaman sebelum replanting oleh program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang digagas oleh Presiden Jokowi,” kata Gulat dalam siaran persnya, di Jakarta, Senin (1/2).

Menurut Gulat, petani sawit yang terlibat PSR, sudah masuk ke generasi kedua yang artinya Petani akan penuh kreativitas dan tidak terbendung keinginan untuk setara. Penggantian tanaman tua sangat membantu mendongkrak produksi sawit petani.

Dikatakan, 200 ribu ha PSR dari 500 rb ha, pada tahun 2022 akan berproduksi dan menjadi blunder jika tidak ditata penampungan TBS nya sejak dini.

“Sebab dengan PSR, kami menanam pakai benih unggul dan sudah mampu menerapkan Best Management Practices (BMP) dan Good Agricultural Practices (GAP),” ujarnya.

Nah, program PSR tadi, lanjut Gulat harus diikuti oleh penyerapan domestik. Kalau tidak diikuti oleh kemandirian energi seperti program EBT.  Program PSR akan jadi masalah, karena akan terjadi over supply. Padahal Presiden Jokowi melalui Dirjenbun dan BPDPKS sudah berjibagu mensukseskannya.

Hampir bisa dipastikan, setelah replanting, produksi sawit petani akan meningkat minimum 2-3kali lipat. Dari yang tadinya 600-800 kg per bulan, bisa menjadi 3 ton-4 ton perbulan. Apabila tidak disertai dengan dukungan green energy (dan produk turunan lainnya) akan sangat berdampak pada petani sawit.

“ Itulah makanya saya berpendapat, bahwa petani sawit sejak dini harus ikut dalam rantai pasok EBT itu. Petani sawit musti dilibatkan dalam hilirisasi Tandan Buah Segar (TBS),” ppaar Gulat.

Menurut Gulat, apabila terjadi over supply CPO, petani tidak tergantung lagi kepada PKS-PKS korporasi. Sebab, petani sudah bisa menjadi pemasok bahan baku EBT dan produk turunan CPO lainnya.

“ Karena itu,  kuncinya ada pada padu serasi semua lini, khususnya ekonomi, sosial dan lingkungan. Ketiganya musti didukung oleh keinginan politik yang sama. Kalau ego yang selalu ditonjolkan, saling jegal, kita enggak akan pernah bisa menghasilkan capaian lebih tinggi dari saat ini. Kami petani sangat siap mendukung capaian lebih tinggi itu,”  katanya.

Soal teknis lain kata Gulat, Indonesia sudah punya semua. Sudah ada katalis merah putih sebagai program strategis pemeringah, karya anak bangsa yang bisa membikin green solar, bensin bahkan avtur.

“Bahan baku kita jelas, kita menanam dan memanen, bukan hanya memanen (seperti minyak fosil), filosopi dan roh dari EBT itu adalah menanam dan memanen yang dampaknya jelas dan multiplier efeknya juga jelas,”  pungkasnya. (ind)