INDOAGRIBIZ— Sekretaris Pelaksana Agriventor, Abiyadun, menilai animo generasi muda terhadap sektor pertanian cukup tinggi. Sebab, jumlah peserta Kompetisi Penemu Muda 2017 Agriventor yang digagas Generasi Muda Petani Indonesia (Gempita) melampaui ekspektasi panitia.

“Kami tak menyangka jumlah peserta mencapai ratusan kelompok. Ini melebih target yang kami canangkan. Mulanya, jumlah peserta cuma sampai 50-an kelompok,” ujar dia di Jakarta, sebagaimana dikutip dari laman resmi Kementerian Pertanian, Jumat (20/10).

Abi menambahkan, banyak peserta dari perguruan tinggi yang mendaftar. Misalnya, dari IPB (Institut Pertanian Bogor), UGM (Universitas Gadjah Mada), Unhas (Universitas Hasanuddin), dan lain-lain. Ada pula kelompok pemuda dari luar perguruan tinggi.

Menurut Abi, jumlah temuan yang didaftarkan pun cukup bervariatif, tak sekadar alat dan mesin pertanian (alsintan) dan alat panen. Namun, juga mencakup alat pascapanen dan pengolahan. “Contohnya, ada salah satu peserta yang membuat teknologi deteksi hama berbasis mobile,” jelasnya.

Setelah penutupan, Panitia Pelaksana Agriventor bakal menyeleksi proposal peserta selama tiga hari dan diumumkan pada 21 Oktober. “Tim juri terdiri dari orang-orang yang kompeten di bidang pertanian dan teknologi. Sehingga, peserta yang keluar sebagai pemenang betul-betul sesuai dengan arah pengembangan pertanian yang dicanangkan,” kata dia.

Di tempat terpisah, Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (Kapusdatin) Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi menyatakan, banyaknya jumlah peserta pada Agriventor menunjukkan regenerasi tani bukan isapan jempol. “Alhamdulillah, artinya segala upaya Kementan untuk kembali menggairahkan sektor pertanian sudah mulai dilirik generasi muda,” ujar dia.

Kementan, tambah Suwandi, melalui beragam terobosan kebijakan yang mendorong mekanisasi dan meningkatkan kesejahteraan petani, salah satunya bertujuan mendorong generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Ia berkeyakinan, dengan adanya mekanisasi, maka proses bertani makin mudah, murah, efektif, dan efisien. Sehingga, mendorong peningkatan income petani.

“Dengan mekanisasi, maka tak perlu lagi kita basah-basahan, kotor-kotoran, dan membuang banyak energi di sawah. Demikian pula hilirisasi produk pertanian kian meningkatkan nilai tambah. Ini peluang bisnis yang menggiurkan, sehingga membuat orang kembali yakin, bahwasanya kita bisa hidup berkecukupan, bahkan lebih,” sambung Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Humas dan Informasi Publik itu.

Suwandi lantas menerangkan beberapa terobosan kebijakan dan hasilnya yang telah dicapai di sektor pertanian. Misalnya, meningkatkan jumlah bantuan alsintan hingga 80 ribu hingga 100 ribu pertahun dan mayoritas anggaran dibelanjakan untuk kebutuhan petani langsung. Dampaknya, tercapainya swasembada empat komoditas strategis hingga meningkatnya kesejahteraan petani.

“Kita pun telah mendapatkan apresiasi dari berbagai negara dan lembaga internasional, karena mampu swasembada dan mengekspor sejumlah komoditas, yang sebelumnya kita impor,” ungkap peraih gelar doktor dari IPB ini.

Kementan, tegas dia, takkan berpuas diri dengan target yang telah tercapai. Namun, ingin mempercepat realisasi visi Lumbung Pangan Dunia 2045. “Salah satu caranya, ya melalui penerapan teknologi dan mekanisasi. Itu juga menjadi prasyarat, agar pertanian Indonesia mampu bersaing di kancah global,” pungkas Suwandi.

Foto : laman resmi Kementan