Aceh Timur, Jadi Klaster Tambak Udang Vaname Berkelanjutan

Jakarta (Indoagribiz)—- Setelah sukses dalam program kegiatan klaster tambak udang vaname berkelanjutan,  Mantang Rayeuk , Aceh Timur, Provinsi Aceh  kembali disertakan dalam program tersebut. Aceh Timur kembali dipilih dalam pengembangan program tersebut, karena kondisi alamnya mendukung dan minat masyarakat untuk budidaya udang sangat besar.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Tb Haeru Rahayu, mengatakan, Ditjen Perikanan Budidaya konsen terhadap  pengembangan dan peningkatan produksi udang vaname. “ Untuk itu kami akan terus mengembangkan kembali daerah yang berhasil dan daerah potensial untuk program ini,” ujar Tebe, sapaan akrabnya, dalam keterangan persnya, di Jakarta, Senin (27/12).

Pemilihan  Aceh Timur sebagai lokasi pembangunan Klaster Tambak Udang Vaname Berkelanjutan,  karena Aceh Timur memiliki kondisi alam yang masih sangat mendukung. Kualitas air daerah tersebut sangat baik, serta lahan yang tersedia cukup luas. Minat masyarakat akan budidaya udang vaname juga besar.

Menurut Tebe, 14 kecamatan di kabupaten ini memiliki tambak seluas 18 ribu hectare (ha). Diharapkan,  melalui program ini mampu meningkatkan dan menyejahterakan masyarakat pesisir, sehingga ekonominya lebih baik dan taraf hidupnya meningkat.

“Kegiatan ini merupakan upaya KKP untuk membuat model Klaster Tambak Udang Vaname Berkelanjutan yang dapat direplikasi oleh masyarakat dan investor dalam rangka menggenjot produksi udang 2 juta ton pada tahun 2024. Melihat semua kondisi yang ada di Aceh Timur daerah yang sangat tepat makanya kami kembangkan kembali,” kata Tebe.

Tebe mengatakan,  sukses tidaknya tambak ini ditentukan oleh petambak yang mengelolanya. Mengingat, pekerjaan seperti ini tidak mudah atau gampang seperti yang dibayangkan. Namun adanya kerja sama yang baik di semua instansi terkait tambak ini jadi sempurna saat ini.

“Kami hanya support terhadap daerah yang mau konsen terhadap peningkatkan produksi udang. Dan Alhamdulillah, Aceh Timur salah satu daerah yang sukses. Untuk itu, mari kita sama-sama menjaga dan memanfaatkan, juga meneruskan apa yang sudah pemerintah pusat berikan untuk kemajuan petambak kita khususnya di Kabupaten Aceh Timur ini,” papar Tebe.

Menurut Tebe, kelompok pembudidaya ikan Rahmat Rayeuk yang berjumlah 13 orang, kini dapat menikmati penghasilan kurang lebih sebesar Rp7,9 juta/bulan. Awalnya dari tambak tradisional penghasilan per bulan hanya Rp 435 ribu.

Kini KKP melalui UPT Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Balai Perikanan Budidaya Air Payau Ujung Batee telah selesai mengembangkan Klaster Tambak Udang Vaname Berkelanjutan di Paya Gajah, Peureulak Barat, Aceh Timur dengan jumlah petakan sebanyak 8 petak dengan luas 3.000 m2 per petak,  dengan padat tebar 240 ribu ekor dan target produksi sekitar 27 ton per siklus.

Dalam kesempatan tersebut, Tebe mengucapkan terima kasih kepada seluruh instansi yang terlibat di dalam kegiatan ini dan juga melanjutkan silaturahmi yang kepada seluruh masyarakat Aceh Timur. Program ini dapat memberikan contoh kepada seluruh petambak di Aceh agar lebih maju lagi dalam budidaya udang vaname ini yang nantinya semua petambak bisa lebih untung dalam penjualan.

“ Pemerintah pusat menyerahkan tambak ini kepada pemerintah Kabupaten Aceh Timur yang langsung dikelola oleh masyarakat melalui kelompok petambak untuk terus dimanfaatkan dan terus memberikan contoh kepada petambak petambak lainnya yang ada di Kabupaten Aceh Timur ini,”  kata  Tebe.

Hal senada diungkapkan,   Bupati Aceh Timur, Hasballah M. Thaib.  Hasballah  juga mengucapkan terima kasih kepada KKP dalam hal ini Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya yang sudah menyempatkan hadir untuk memberikan bantuan tambak klaster kepada kelompok petambak di Desa Paya Gajah Kecamatan Peureulak Barat, dengan harapan bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

“Saya sangat berterima kasih kepada KKP atas bantuan klaster tambak ini dan diharapkan dapat membangkitkan perekonomian di Kabupaten Aceh Timur,”  ujarnya.

Hasballah pun optimis daerahnya bisa menjadi sentra produksi perikanan budidaya, khususnya budidaya tambak udang. Kami akan bekerja secara cepat, membentuk tim percepatan dalam pelaksanaan kegiatan karena sangat bagus untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Akan banyak tenaga terserap dan perputaran ekonomi akan lancar, secara otomatis ekonomi daerah akan meningkat. “Apa yang sudah ada akan kami jaga dan ke depan kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa lebih ditingkatan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP), Ujung Batee, M. Tahang, mengatakan, Klaster Tambak Udang Vaname Berkelanjutan yang berada di Kabupaten Aceh Timur seperti di Paya Gajah, Peureulak Barat ini merupakan kawasan tambak ideal karena terdiri dari petak pengelolaan air bersih, petak produksi, petak pengelolaan air limbah dan kawasan hutan mangrove sebagai kawasan penyangga untuk mewujudkan budidaya perikanan berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Melalui konsep klaster ini memungkinkan pengelolaan yang lebih terkontrol. Ada perbaikan tata letak dan penerapan biosecurity secara ketat dengan manajemen pengelolaan yang lebih terintegrasi dalam seluruh tahapan proses produksi. Selain itu mempermudah dalam manajemen, meningkatkan efisiensi serta dapat meminimalisasikan dampak terhadap lingkungan dan serangan penyakit.

“BPBAP Ujung Batee selalu berkomitmen membantu masyarakat untuk meningkatkan produksi perikanan, terutama pada kegiatan budidaya udang. Kontribusi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan stakholder serta peran masyarakat sangat penting dalam guna pembangunan tambak klaster ini, agar mampu meningkatkan produksi perikanan budidaya berkelanjutan,” kata Tahang.

Dalam kesempatan tersebut, KKP memberikan dukungan berupa 1 paket Klaster Tambak Udang Vaname Berkelanjutan di Paya Gajah, Peureulak Barat, Aceh Timur senilai Rp 5.813.803.000,-. Melalui UPT DJPB, BPBAP Ujung Batee telah selesai mengembangkan Klaster Tambak Udang Vaname Berkelanjutan di Paya Gajah, Peureulak Barat, Aceh Timur dengan jumlah petakan sebanyak 8 petak dengan luas 3.000 m2 per petak dengan padat tebar 240 ribu ekor dan target produksi sekitar 27 ton per siklus dengan nilai diperoleh sekitar kurang lebih Rp 1,9 miliar per siklus atau Rp 5,8 miliar per tahun dengan proyeksi keuntungan sekitar Rp2,5 miliar per tahun (asumsi harga Rp 70 ribu per kg).

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan menyampaikan tadinya tambak-tambak tersebut dikelola secara tradisional oleh masyarakat. Kemudian melalui program KKP, tambak direvitalisasi menjadi tambak udang model klaster dengan produktivitas yang jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya dan lebih ramah lingkungan. (dar)

Sumber Foto, Dok: Humas DJPB