Kementan Dorong Peningkatan Produksi Susu Nasional

INDOAGRIBIZ(Jakarta) – Faktanya saat ini kebutuhan susu nasional masih harus dipenuhi dari impor. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kebutuhan susu Indonesia pada 2017 sebesar 4.448,67 ribu ton dengan konsumsi susu 16,5 liter/kapita/tahun.

Sementaraproduksi susu nasional baru mencapai 922,97 ribu ton (20,74%). Alhasil  sebanyak 3.525,70 ribu ton atau 79,26% kebutuhan susu harus dipenuhi melalui impor.

Tidak tinggal diam menghadapi kondisi masih rendahnya produksi susu nasional ini, Kementerian Pertanian (Kementan) keluarkan regulasi Permentan  No. 26 Tahun 2017 tentang Penyediaan dan Peredaran Susu.

I Ketut Diarmita, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH),Kementerian Pertanian menyebutkan, aturan ini adalah regulasi pertama sejak 1998  yang diharapkan mampu mendorong semua stakeholder untuk berperan aktif mengembangkan persusuan nasional.

Ketut mengakui, persusuan nasional memiliki beberapa masalah di sisi hulu dan hilir. Dari sisi hulu berupa trend penurunan populasi sapi perah sehingga menurunkan produksi susu segar dalam negeri (SSDN).

Tak hanya hulu saja yang terkendala dari sisi hilir, harga susu di tingkat peternak belum sesuai harapan sehingga peternak belum memperoleh pendapatan layak dari usaha peternakan. Lemahnya posisi tawar peternak karena kualitas SSDN yang dihasilkan masih rendah. Sementara, kualitas susu menjadi salah satu indikator utama penentuan harga.

“Untuk itu, diharapkan Permentan ini sebagai salah satu solusi dalam mengurai permasalahan persusuan nasional dalam mengakselerasi penyediaan susu melalui produksi dalam negeri yang berkualitas dan berdaya saing untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat dan bahan baku industri yang berkesinambungan”, kata Ketut pada Seminar Nasional “Meningkatkan Produktivitas dan Kualitas Susu Segar Dalam Negeri: Sharing Peternak Muda” di Bogor, Jabar, Rabu (25/4).

Kemitraan Susu

Pola kemitraan diharapkan dapat menjadi jalan keluar pengembangan persusuan nasional.

Ketut menerangkan, kemitraan untuk peningkatan produksi dapat dilakukan melalui berbagai cara. Pertama, penambahan populasi ternak perah pada peternak, gabungan kelompok peternak dan/atau koperasi. Kedua, fasilitasi pembesaran pedet (rearing). Ketiga, peningkatan ketrampilan dan kompetensi peternak, gabungan kelompok peternak atau koperasi.

Kemitraan dalam bentuk permodalan atau pembiayaan dapat berupa memfasilitasi modal usaha dengan bunga terjangkau atau menjamin untuk mendapatkan kredit usaha. “Program kemitraan ini bersifat mandatori bagi pelaku usaha yang melakukan importasi susu dan produk turunan susu,” tandas Ketut.

Firi Murfiani, Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil peternakan, Ditjen PKH menambahkan, jenis kemitraan yang dijalankan pelaku usaha bersifat fleksibel. Artinya, sesuai dengan kebutuhan peternak/gapoknak/koperasi yang menjadi mitra. Kemitraan dilaksanakan dengan mengedepankan aspek saling ketergantungan, membutuhkan, dan menguntungkan.Dengan kemitraan industri mendapat kepastian bahan baku sedangkan peternak terjamin serapan pasar SSDN.Dwi Satryo, peternak muda berprestasi asal Bogor menekankan, poin utama kemitraan adalah saling menguntungkan dan menguatkan setiap pihak yang bermitra, baik industri pengolah maupun peternak. Dwi pun melaakukan kemitraan dengan peternak sekitar dengan menyediakan pakan, milk can, dan manajemen budidaya sapi perah yang baik.

Mewakili peternak, Dwi mengungkapkan, Permentan No. 26/2017 bisa membawa harga susu membaik di tingkat peternak, kesejahteraan peternak meningkat, populasi sapi perah meningkat, peternak lebih bersemangat beternak dan bisa memperoleh akses memiliki bibit unggul karena rearing mahal. “Adanya Permentan No. 26/2017 melalui skema kemitraan berupa promosi diharapkan mampu berperan dalam kegiatan usaha peternak. Selain itu, ada dukungan khusus kepada peternak yang juga mengolah susu segar. Karena dengan semakin banyak peternak berjiwa pengusaha, akan lebih mensejahterakan,” tegas produsen olahan susu, seperti yoghurt Eyoci dan milk shake itu. (ds)

Sumber Foto : Agrina

Seminar Susu kerjasama Kementan dan Agrina dihadiri berbagai stakeholder persusuan nasional