Indoagribiz.Inovasi teknologi aplikasi bantu ternak di ciptakan oleh mahasiswa UGM (Universitas Gadjah Mada). Terobosan model investasi peternakan berbasis aplikasi android

Layar elektronik di ujung ruangan menampilkan tulisan”Bantuternak” dengan latar gambar seekor sapi di padang rumput.

Mengutip informasi dari laman Trobos.com, disebutkan bahwa laman depan bantuternak.com itu pengunjung bisa mendapatkan akses untuk mengetahui lebih dalam program investasi dengan misi membantu peternak sapi potong dalam mendapatkan modal.

Dari menu-menu yang disediakan, calon investor pun bisa langsung mengunduh aplikasi berbasis android untuk bergabung dengan program bantuternak dan mengontrol investasinya.

Ray Rezky Ananda, CEO Bantuternak dan penggagas program Bantuternak  ini menyatakan program ini digagasnya pada Maret 2016.

Versi Beta dari aplikasi Bantuternak berhasil muncul di google playstore pada 10 Januari 2017. “Transaksi dalam seminggu langsung banyak, sekitar 5 user dengan nilai Rp 5 jutaan. “Mereka betul-betul orang baru, bukan kerabat. Mereka pun mmemberi banyak masukan pada kredibilitas aplikasi yang masih kurang bagus,” tutur Ray di kantornya.

Setelah dilakukan perbaikan aplikasi, pada 5 Juni 2017 dilakukan relaunching. Hanya dalam waktu dua pekan, jumlah pengunduh aplikasi Bantuternak tembus 1.000 orang. “Total investasi yang masuk melalui aplikasi ini mencapai Rp 50 jutaan,” ungkapnya.

Nur Fahmia menguraikan untuk menjaring investor, ia tidak mengandalkan aplikasi Bantuternak di Google Playstore semata. Dia rajin berpromosi melalui sosial media seperti facebook dan instagram. Selain melalui grup-grup sosmed, seringkali dia menitipkan promosi melalui akun personal teman-temannya. “Hasilnya, ada investor yang datang ke kantor Bantuternak. Dia menginstal aplikasi di sini dan langsung transaksi. Dia bukan semata berinvestasi tetapi memang ingin membantu peternak,” ungkap Nur Fahmia.

Uniknya, kata Nur, terjadi pula hal sebaliknya. Ada seorang user dari Magelang yang langsung menginvestasikan Rp 12 juta atau senilai seekor sapi tanpa bertemu sama sekali dengan tim Bantuternak. Komunikasi hanya disambung lewat telepon dan aplikasi messenger.

Seluruh uang dari investor yang terkumpul kemudian disalurkan kepada peternak mitra dalam bentuk 3 ekor sapi. Melalui apliksi di ponselnya investor mendapatkan informasi identitas peternak penerima investasi, bahkan bisa mengakses perkembangan sapinya.

Model investasi

Menurut Ray, user yang mengunduh aplikasi bisa berinvestasi berapapun pada program Bantuternak ini. “Mulai dari Rp 10.000,” tandasnya. Investasi bisa dikirim melalui transfer bank atau diserahkan langsung kepada tim Bantuternak. Dia mengaku tidak membuat investasi dengan sistem paket ataupun senilai ternak (sapi), karena ingin memberikan kesempatan kepada siapapun untuk bergabung dengan program ini.

“Sebab ide awalnya memang untuk membantu peternak. Ada unsur sosial yang kental, bukan sekadar bisnis investasi. Diantara investor ada yang berniat murni membantu peternak, namun juga ada yang memang berniat investasi,” jelas Ray. Walaupun begitu dana dari mereka tetap dikelola secara profesional dan transparan.

Ray membuka pola bagi hasil yang dia tawarkan. Peternak mendapatkan bagian terbesar, 70 % dari keuntungan bersih. Investor mendapatkan 20 %, sedangkan pengelola program Bantuternak mendapatkan 10 %. “Laporan perkembangan sampai panen bisa diakses melalui aplikasi. Dana dari bagi hasil yang diberikan kepada investor, bisa ditarik ataupun diinvestasikan lagi,” paprnya.

Dia menguraikan dana investasi dibelikan sapi yang kemudian diberikan kepada peternak, jika secara akumulatif kolektif telah mencapai standar paket investasi seekor sapi sebesar Rp 14 juta. Sapi kemudian digemukkan selama 5 bulan oleh peternak mitra. Menurutnya, uang sebesar Rp 14 juta itu tidak semuanya dibelikan sapi, tetapi dipotong Rp 1,2 juta untuk biaya pakan dan Rp 200 ribu untuk biaya kesehatan.

“Lama operasional kami belum mencapai 5 bulan sejak launching bulan Juni, sehingga belum pernah panen. Namun dari survey kami di kelompok peternak mitra, dari investasi senilai Rp 10 juta, dapat diperoleh profit minimal 4 %,” ungkap Ray.

Ray mengaku tidak ‘minder’ dengan besaran profit investasi yang angkanya diakui tidak sebesar yang ditawarkan bidang investasi lain. “Investasi pada program Bantuternak bukan berorientasi 100 % profit, tetapi dasarnya adalah untuk membantu peternak. Terlebih jumlah peternak semakin menyusut dan tidak menarik bagi generasi muda,” terang dia.